FOKUS GROUP DISCUSSION DALAM RANGKA PENERAPAN MODUL DAN MENGGALI INFORMASI UNTUK PELAKSANAAN SEKOLAH LAPANGAN IKLIM (SLI) PADA PETANI TADAH HUJAN, PETAMBAK GARAM DAN PEMBUDIDAYA LOBSTER DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PELATIHAN MONITORING KESETARAAN GENDER DALAM SANITASI (MKGS) DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH
23 October 2019
Konsultasi Publik Rencana Aksi Daerah (RAD) Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi Nusa Tenggara Barat.
31 October 2019

LOMBOK TIMUR– Perubahan iklim saat ini sudah terjadi dan dirasakan dampaknya oleh seluruh masyarakat dunia,  tidak terkecuali oleh masyarakat Kabupaten Lombok Timur – Nusa Tenggara Barat. Curah hujan, kekeringan dan musim yang tidak menentu menyebabkan masyarakat harus dapat menyesuaikan diri dengan cepat terhadap situasi yang terjadi. Oleh karenanya, para pemangku kepentingan maupun masyarakat   perlu mengambil langkah cepat untuk menyusun program aksi adaptasi perubahan iklim yang bertujuan untuk menjamin atau mengamankan pencapaian sasaran utama pembangunan serta meningkatkan ketahanan masyarakat, baik secara fisik, maupun ekonomi, sosial dan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) didukung Islamic Relief Indonesia melalui Program Dukungan Kepada Masyararakat Miskin Untuk Mendapatkan Hak-Haknya Terkait Informasi Iklim, berkomitmen meningkatkan kapasitas masyarakat dalam adaptasi terhadap perubahan iklimk hususnya petani tadah hujan, petani tambak garam, dan pembudi daya lobster di tiga desa yaitu Desa Pandan wangi, Desa Pemongkong dan Desa Pare Mas Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan sumber-sumber penghidupannya. Salah satu kegiatan dalam program ini adalah menyusun modul training adaptasi perubahan iklim berbasis gender atau Modul Sekolah Lapang Iklim berbasis gender. Modul- modul tersebut selanjutnya akan menjadi acuan dan referensi dalam pelaksanaan sekolah lapangan berbasis gender yang melibatkan tiga komunitas tersebut.

Untuk mendukung penyusunan modul tersebut maka dilaksanakan Focus Group Discussion yang bertujuan untuk menggali informasi praktik-praktik atau pengalaman masyarakat terkait perubahan iklim dan dampaknya terhadap keberlangsungan sumber-sumber penghidupan mereka serta menggali informasi upaya atau strategi yang telah dilakukan oleh masyarakat setempat dalam membaca perubahan iklim. Mendapatkan data dan informasi berdasarkan pengalaman langsung informan terpilih untuk menambah referensi dari rancangan modul SLI

Pada pembukaan FGD di Dusun Gili Ree Desa Pare Mas untuk komunitas pembudi daya lobster, Zulfikri selaku Program Manager  mengatakan bahwa kegiatan ini adalah untuk menggali strategi adaptasi local yang dilakukan oleh masyarakat terhadap perubahan iklim dalam budidaya lobster dan diharapkan dapat diterapkan sebagai panduan pada saat melaksanakan SLI.

Sementara itu, Abidin Tuarita selaku Fasilitator FGD untuk Petani Tadah Hujan berharap dapat menggali apa saja yang telah dilakukan petani pada sawah tadah hujan terkait adaptasi local terhadap perubahan iklim. Melalui FGD ini diharapkan akan terkumpul informasi terkait perkembangan dan permasalahan yang dialami oleh komunitas petani tadah hujan setempat melalui diskusi informal dan komunikatif sehingga dapat menyumbang dalam penyusunan modul sekolah lapang iklim. 

Dalam FGD di Dusun Repok Bembek Desa Pemongkong  untuk komunitas petambak garam, Subhan selaku Fasilitator berharap melalui kegiatan ini akan terkumpul data dan informasi terkait  kendala-kendala yang dihadapi saat musim hujan dan kemarau, data pengolahan dan pengelolaan garam, analisis pendapatan, serta harga jual dari produksi garam. Selain itu melalui kegiatan FGD ini, Program berharap dapat melakukan penguatan dan peningkatan kapasitas masyarakat khususnya komunitas petambak garam.

Melalui pelaksanaan FGD ini diharapkan petani tadah hujan dapat memberikan informasi terkait curah hujan, musim, jenis tanaman baik tanaman utama maupun alternative serta jenis hama penyakit, pelaku-pelaku yang berperan aktif dalam usaha produksi, pengetahuan local tentang cuaca, musim dan informasi terkait perubahan iklim.

Sementara itu melalui FGD pada komunitas Petani Garam diharapkan dapat terkumpul informasi mengenai lokasi produksi tambak garam, teknologi produksi garam yang digunakan, curah hujan dan upaya-upaya yang dilakukan selama masa produksi. Selain itu data pelaku produksi usaha garam dalam setiap tahapannya, proses produksi garam hingga siap jual serta pengetahuan lokal di lapangan.

Untuk Komunitas Pembudi daya lobster diharapkan akan terkumpul data mengenai lokasi KJA (keramba jari ngapung), proses produksi pembudidayaan lobster, musim, curah hujan, penyakit, jenis tangkapan, pelaku dalam setiap tahapan proses produksi serta pengetahuan lokal di lapangan sehingga dapat diidentifikasi upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *