“Gunung Es Yang Runtuh”

MEMANTAPKAN 5 PILAR RENCANA AKSI PANGAN DAN GIZI KAB. LOMBOK TIMUR DALAM PERTEMUAN LANJUTAN TIM PENYUSUN RENCANA AKSI DAERAH PANGAN DAN GIZI (RAD PG) 2019-2023 KABUPATEN LOMBOK TIMUR
12 June 2018
“Karena Perempuan Harus Berbicara”
13 July 2018

Testimoni Program Power Up

“GUNUNG ES YANG RUNTUH”
By :Asrul Liana (Fasdes Power Up DesaMasbagik Utara Lombok Timur)

Nama saya Baiq Intan Anggraeni. Saya berumur 37 tahun dan saat ini menjadisingle parent dengan dua orang anak. ketika saya masih berumah tangga, banyak kejadian yang membuat saya trauma dan tertutup untuk bertemu serta bersosialisasi dengan orang banyak. Suami saya orang yang tempramental. Selain itu budaya patriarki yang kuat di lingkungan saya membuat saya harus mematuhi aturan dan budaya yang sudah ada secara turun temurun.Hal ini berlangsung selama pernikahan kami sampai akhirnya saya merasa tidak sanggup lagi untuk menjalani rumah tangga dengan suami saya. Ketika proses perceraian, lagi-lagi suami menyulitkan saya agar mengurungkan niat untuk berpisah. Saya mencoba untuk berbagi masalah saya dengan orang lain tetapi hasilnya adalah saya disalahkan. Hal ini membuat saya bertahun-tahun menjadi pribadi yang tertutup. Saya membuat batasan dengan orang lain dan mulai membuat aturan-aturan untuk anak-anak saya.

Sampai akhirnya Program Power Up yang diinisiasi oleh Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) dengan dukungan OXFAM mulai dilaksanakan di desa Masbagik Utara, tempat tinggal saya. Awalnya saya tidak begitu tertarik ketika saya diundang dalam kegiatan program ini.Terlebih lagi saya sudah membuat batasan dalam diri saya untuk bertemu dan terbuka dengan orang lain. Namun saya akhirnya memutuskan diri untuk mencoba menghadiri kegiatan program ini, karena saat itu saya berpikir hanya perempuan saja yang diundang. Akhirnya saat hadir dalam kegiatan tersebut, ternyata kepala desa, sekdes, tokoh agama, tokoh adat dan beberapa tokoh perempuan di desa saya juga hadir.

Saat sesi pemaparan program, saya merasa tertarik khususnya saat pembahasan tentang masalah gender. Seketika itu saya menyadari kekuatan yang seperti ini hilang dalam diri saya. Saya merasakan menemukan ruang yang selama ini saya cari-cari, yang bisa memberikan efek bukan hanya berdampak pada diri saya sendiri tetapi juga untuk anak saya, tetangga dan kelompok perempuan khususnya serta masyarakat desa Masbagik Utara pada umumnya. Akhirnya saya mulai membuka diri saya untuk memberikan energi positif kepada lingkungan sekitar saya. Bahkan saya merasa gunung es yanga da didalam diri saya selama bertahun-tahun mulai menghilang bahkan runtuh. Saya juga mengajak anak saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan Power-Up ini agar mereka mempunyai pengetahuan ketika nantinya mereka akan menikah dan berkecimpung di masyarakat.

Saya sangat bersyukur dengan adanya program Power Up ini. Karena selama ini memang tidak pernah ada kegiatan pemberdayaan perempuan seperti ini, sehingga saya bertekad tidak hanya saya yang berubah tetapi lingkungan khususnya kelompok perempuan dan masyarakat Masbagik Utara juga harus berubah untuk kemajuan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *