“Karena Perempuan Harus Berbicara”

“Gunung Es Yang Runtuh”
25 June 2018
Studi Prevalensi Stunting, Status Gizi dan Praktek Diet Rumah Tangga Di 10 desa Kabupaten Lombok Timur
23 July 2018

Tepuk tangan memenuhi Aula kantor Desa Danger Kecamatan Masbagik Lombok Timur setelah Ibu Jumnah mengakhiri pemaparannya. Ibu Jumnah merupakan perwakilan kader dan juga anggota Kaukus Perwada (Kaukus Perempuan yang dibentuk melalui Program  Power Up) yang hadiri dalam kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrembangdes) RPJMDesa Danger tahun 2018-2024.

Kesempatan yang diberikan oleh Kepala Desa Danger untuk mengkaji ulang dokumen RPJMdesa yang ada, dimanfaatkan beliau untuk mengkritisi dokumen tersebut. Menurut Ibu Jumnah masih sangat minim usulan dari kelompok Perempuan yang masuk kedalam dokumen RPJM Desa Danger 2018 – 2024. Usulan penyuluhan PUP (Penundaaan Usia Pernikahan), Kelas Ibu Hamil, Pelayanan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) dan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi tidak satupun yang diakomodir didalam dokumen pembangunan Desa tersebut. Padahal usulan itu juga penting untuk kelompok laki – laki. Semua usulan pembangunan yang ada di dalam dokumen tersebut menurut beliau kebanyakan hanya memasukkan usulan dari kelompok laki – laki saja. Itu pun yang berupa pembangunan sarana dan prasarana. Memang ada usulan Kelompok Perempuan yang diakomodir yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yaitu pembangunan Posyandu. Tetapi menurut Ibu Jumnah, membangun pengetahuan dan kapasitas masyarakat khususnya Kelompok Perempuan di Desa Danger sama pentingnya dengan membangun sarana dan prasarana yang sifatnya fisik semata.

Sementara itu Ibu Sunhaesi yang merupakan Bidan Desa yang sering terlibat dalam kegiatan Kaukus Perwada menambahkan  bahwa saat ini masih ada 1 kasus anak memiliki gizi burukdi Desa Danger.Tetapi di sisi lain, dana untuk kegiatan PMT dan kesehatan ibu dan anak masih minim di tingkat desa dan dusun. Sehingga hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah desa, Selain itu menurutnya, perlunya perhatian dari Pemerintah Desa terhadap lansia yang ada di Desa Danger karena bagaimana pun juga kelompok lansia merupakan bagian dari masyarakat juga.

Apresiasi diberikan oleh Munawir yang merupakan Fasilitator Pendamping Desa terhadap kritikan dan masukan yang diberikan oleh wakil –wakil kelompok perempuan yang hadir dalam kegiatan tersebut terhadap dokumen RPJMDes yang ada. Bahkan berdasarkan pengalaman Munawir selaku Pendamping Desa,  di beberapa desa yang pernah didampinginya ketika musrembang berlangsung meskipun dipancing –pancing, kelompok perempuan tetap diam dan menerima hasil Musrenbang tanpa komentar. Sehingga menurutnya, apa dilakukan oleh ibu Jumnah dan ibu Sunhaesi patut diberi a-plus karena ibu – ibu di Desa Danger sudah ikut mengkaji salah satu dokumen pembangunan desa.

Sementara itu Kaspul Hadi selaku Kepala Desa Danger menyatakan bahwa meningkatnya daya kritis Kelompok Perempuan di desanya tidak lepas dari Program Power Up  yang diinisiasi oleh Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) dan OXFAM yang sudah dijalankan selama setahunini. Dengan adanya Program Power Up ini, perempuan di Desa Danger mulai sadar dan mulai mencoba mengkritisi kebijakan pembangunan desa yang  tertuang pada RPJMdes yang akan dilaksanakan selama 6 tahun kedepanoleh Pemerintah Desa Danger.Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa perempuan perlu berbicara dan harus berbicara agar kebutuhan dan aspirasinya dalam proses pembangunan desa juga didengar oleh masyarakat secara keseluruhan.

Dari dokumen RPJMDes Desa Danger yang ada, sebagian besar usulan yang tertuang dan menjadi skala proritas masih berupa kegiatan fisik sarana dan prasarana berupa pembangunan SPAL jalan, rabat, irigasi, pengelolaan sampah, rumah layak huni serta pembangunan MCK.

Penulis : Asrulliana

Edit oleh : Eko Krismantono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *