Laki-Laki Peduli dan Perempuan Bicara

Jumlah “Stunting” di Lombok Timur Harus Diturunkan
24 April 2018
Hak-Hak Perempuan dan Partisipasi Perempuan (Desa Danger Kecamatan Masbagik Lombok Timur)
23 May 2018

Laki-Laki Peduli dan Perempuan Bicara

 

Banyak beranggapan bahwa gender itu hanya berhubungan dengan perempuan. Termasuk kesalahan beberapa funding dalam menyalurkan dananya sering terjebak dalam pemahaman bahwa program berbau gender hanya layak dilaksanakan oleh lembaga yang pimpinannya atau sebagian besar stafnya perempuan. Padahal gender itu lebih pada menyetarakan hak dan kewajian antara laki-laki dan perempuan. Banyak juga beranggapan bahwa pemimpin dan perlaksana pembangunan harus laki-laki, sementara perempuan cukup dibagian rumah tangga dan urusan remeh organisasi. Padahal kesetaraan gender adalah kesamaan hak laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan.

Pelatihan gender dan kepemimpinan perempuan yang dilaksanakan oleh Konsepsi – Oxfam di 16 desa Lombok Timur: Paokmotong, Kesik, Danger, Masbagik Timur, Masbagik Selatan, Masbagik Utara, Lendang Nangka, Lenang Nangka Uatara, Sikur, Darmasari, Montong Baan, Montong Baan Selatan, Loyok, Gelora, Kotaraja dan Tete Batu Selatan telah mengubah persepsi tersebut. Dari 2 kali pelatihan dengan target penerima manfaat 70 orang per desa masing-masing memiliki dampak besar bagi pola fikir dan perilaku pesertanya.

Munculnya partisipasi laki-laki dalam perjuangan hak perempuan adalah langkah maju. Partisipasi tersebut bisa berupa personal atau kelembagaan. Laki-laki yang terus menerus menyuarakan kesetaraan gender memang belum banyak, hanya saja lahir dari setiap pelatihan dan proses pendampingan di 16 desa. Muncul dari berbagai lembaga yang memiliki program pendampingan kepada perempuan. Laki-laki ini layak dikatakan “Laki-Laki Peduli”. Dikatakan peduli karena sebelumnya apatis dengan kebutuhan dan hak-hak perempuan, justru sekarang jadi penggerak di komunitas masing-masing.

 

Di Desa Kesik misalnya muncul Idrus, Sahunan, Wahid Hasan, Ustadz Nawawi, Apipudin Adenan sebagai penggerak laki-laki lain untuk ikut membantu perempuan memenuhi hak-haknya dan menjalankan kewajibannya. Mereka yang sebelumnya menganggap program kesetaraan gender sebagai  penentangan terhadap kodrat perempuan, mengajak perempuan melawan suami dan mengarahkan kepada pergaulan bebas kini justru menjadi motor penggerak di lingkungannya desa Kesik. Desa Paokmotong pun memunculkan nama-nama seperti Lalu Dahman, Arjuna, Saeful Ahyar, Ustadz Nasir,  Helmi Yahya. Mereka populer dikalangan perempuan yang mendambakan dukungan laki-laki untuk menyuarakan aspirasinya, mengangkat mereka dari permasalahan sosial dan ekonomi.

Begitupun Konsepsi sebagai lembaga penyelenggra Program Power Up, Dr. Muh.Taqiudin  (Direktur) mendorong pemikiran baru bahwa tidak harus perempuan yang jadi pendamping program perempuan. Laki-laki justru banyak yang memiliki pemikiran cemerlang untuk memajukan perempuan. Sehingga dimunculkan laki-laki baru pada posisi program manajer Syamsul Hadi dan 4 orang fasilitator desanya Syaefudin Zuhri (lebih bangga dipanggil Amaq Jia), Fahri, Syarbaini Yanis (lebih akrab dipanggil Benzo) dan saya sendiri. Pelatihnya pun tidak harus perempuan, maka muncullah nama Zulkipli dan Muhamad Saleh.

Selain melahirkan laki-laki peduli, muncul juga perempuan yang selama ini tidak bisa bicara karena kaku, tidak terbiasa dan takut, justru sekarang bicaranya lancar. Mereka bicara dari urusan rumah tangga, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di desanya. “Perempuan itu lebih kuat dari laki-laki kata Pin Rosma (Ketua Kaukus Mele Maju Kesik) Kenapa lebih kuat? Karena perempuan itu bekerja dari terbitnya matahari sampai terbenamnya mata suami”.

“Mana mungkin usulan perempuan di Musrenbangdes bisa didengar kalau untuk menyampaikan usulan saja masih kaku dan takut?” Kata Hernawati (Ketua Kaukus Srikandi Paokmotong). “Kami lelah berjuang supaya kebutuhan perempuan dianggarkan dalam RAPBdes, hanya saja kami tidak didengar karena pembangunan desa hampir 100% bersifat fisik sedangkan pemberdayaan perempuan nol, kata Yuyu Sasrini (warga Rumeneng Paokmotong) bernada sinis. Selama ini pembangunan dikuasai oleh kaum laki-laki yang sama sekali tidak transparan dalam mengelola anggaran pembangunan desa kata kader kesehatan lain.

Hasil tersebut diatas baru sebatas peningkatan kapasitas laki-laki dan perempuan untuk ikut terlibat pemperjuangkan kesetaraan hak dan keajibannya, belum pada menfasilitasi dukungan dana operasional kaukus perempuan dan pemberian alat-alat tekhnologi seperti jargon Power Up “Memperkuat Perempuan melalui Tehnologi”. Maka jika sampai ahir program power up tidak menghasilkan tujuan besar seperti mimpi bersama Konsepsi-Oxfam, minimal melahirkan banyak laki-laki peduli dan perempuan bisa bicara, lumayan.

Lalu Handani / Fasilitator Desa

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *