MENGAWALI PROGRAM DENGAN SURVEY

KEGIATAN PELATIHAN KESADARAN GENDER DAN KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI KECAMATAN SIKUR DAN MASBAGIK
16 November 2017
DIALOG STIGMA TABU DAN PRAKTIK KESEHATAN
19 December 2017

Sering kita dengar sinisme warga dampingan: “Dari dulu sampai sekarang kami eksis dan bahagia menjalankan hidup, tiba-tiba kalian datang mengajarkan kami cara hidup yang aneh-aneh. Apa hidup kalian sudah lebih baik dari kami?”.

Sejak awal reformasi bergulir NGO bagai jamur di musim penghujan, bagai banjir bandang dan banjir bantuan Keruak. Warga kampung dimanja dengan berbagai jenis pendampingan dan fasilitas bantuan NGO. Banyak program yang dibawa oleh NGO lokal dan nasional ke kampung-kampung yang tergolong desa terbelakang. Mereka menawarkan perubahan dan solusi atas permasalahan warga kampung, dan tidak sedikit menawarkan bantuan fisik atau finansial. Dan dari sekian banyak NGO tersebut tidak banyak yang memahami apa sesungguhnya terjadi dan apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat tersebut, sehingga sering kandas ditengah jalan atau bisa dituntaskan tapi hanya menghasilkan out put tampa out come (program tampa ruh).

Beruntung saya termasuk bagian dari program Power Up kerjasama Konsepsi-Oxfam yang mendampingi warga di 2 desa yakni Paokmotong dan Kesik. Ketertarikan saya ikut karena program ini memanfaatkan hobi jadi kebutuhan, program yang memahami pentingnya penggunaan alat-alat tekhnologi untuk kesehatan perempuan. Program yang memanfaatkan fasilitas tekhnologi untuk kesejahteraan warga dengan menggali terlebih dahulu apa kebutuhan mereka dan sejauh mana tingkat keterampilan SDM-nya. Program bersifat Bottom Up; menggali informasi dari bawah dengan cermat sebagai dasar mendesain program.

Manfaat  survey diharapkan dapat memberi arah program bahkan dapat ditindak lanjuti pasca program (sustainability). Karena sustainability dapat terjadi sangat tergantung dari hasil survey dan model pendampingan yang direkomendasikan sureveyer. Survey penting karena kita belajar dari pengalaman NGO lain: “Selesai program, selesai segala-galanya”.

Saya ikut juga dalam proses pra program. Jauh sebelum mulai program dilakukan survey menjajaki desain program apa yang akan diterapkan, warga desa mana penerima manfaat dan lembaga mitra yang layak melaksnakannya. Dalam survey awal tersebut tergambar pemanfaatan alat tekhnologi ponsel gedget masih jadi alat komunikasi biasa dan hiburan, penggunaan medsos lebih banyak berdampak negatif seperti jadi korban penipuan, perkelahian dan perselisihan pasangan suami istri. Kantor desa memiliki jaringan internet yang canggih, tapi tidak dimanfaatkan maksimal karena kwalitas SDM yang menjalankan masih rendah.

Dalam survey tersebut juga didapatkan keterlibatan perempuan dalam berbagai program pembangunan desa sangat minim, bahkan tidak sampai 20%. Perempuan di Musrenbangdes misalnya, hanya sebagai tukang sapu ruangan, “tukang seduh kupi”,  tukang cuci piring, atau paling bergengsi tukang bagi transport peserta. Bahkan di beberapa desa sebagian besar perempuan tidak mengerti apa Musrenbangdes.

Dari berbagai temuan survey juga didapatkan warga pedesaan mulai manja dengan berbagai bantuan fisik dan dana. Akan berbeda penerimaan warga saat sebuah lembaga datang dengan bawa bantuan fisik dan finansial. Bahkan saat melakukan survey, enumerator sering dengar candaan responden “Saya ditanya macam-macam begini apa akan diberikan uang?”.

Ini tantangan sekaligus peluang untuk melakukan perubahan, dan Konsepsi menangkapnya sebagai “Ladang amal jariyah” dengan menerjunkan tim Power Up: 8 Fasilitator Desa yang masih enerjik dan humoris, 1 personil ICT yang menguasai masalah tekhnologi informasi moderen pedesaan, 1 program manajer yang selalu sabar dengan plus minus timnya, 1 staf program yang selalu siap terjun ke lapangan jika fasilitator desa mendapat kesulitan dan 1 staf keuangan yang menguasai dinamika aturan maen lembaga funding. Mereka kombinasi senior dengan yunior, laki-laki dan perempuan, dan dengan latar belakang disiplin ilmu berbeda. Semuanya saling melengkapi tampa ada yang merasa terbebani. Saya berharap sampai berahir program tim Power Up tetap seperti artinya tim tersebut memperkuat diri dan warga dampingan.

Menariknya lagi program ini menganggap survey pra program tidak cukup, setelah program berjalan pun tidak gegabah menentukan fasilitas bantuan apa yang akan diberikan kepada warga dampingan dan mendengar secara langsung keterampilan SDM menjalankan tekhnologi, informasi dan komunikasi. Kembali dilakukan Focus Group Discussion melibatkan 50 peserta terdiri dari 16 Kepala Desa, 16 Bendahara Desa dan 15 ketua BPD. Dari FGD tersebut pesertanya merekomendasikan 151 warganya jadi responden untuk diwawancara melalui aplikasi mobenzi.

Dengan berbagai pendekatan perlahan kehadiran Konsepsi diterima dengan lapang dada oleh semua pihak di 16 desa dampingannya: Desa Masbagik Timur, Masbagik Selatan, Masbagik Utara, Danger, Lendang Nangka, Lendang Nangka Utara, Paokmotong dan Kesik Kecamatan Masbagik; Desa Sikur, Darmasari, Montong Baan, Montong Baan Selatan, Loyok, Gelora, Kotaraja dan Tete Batu Kecamatan Sikur. Karena tim Power Up Konsepsi selalu melakukan survey sebelum menentukan model pendampingan, datang tidak menggurui warga tapi sama-sama mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Tidak menganggap warga sebagai objek program tapi mitra dalam melakukan perubahan dan mendengarkan sebelum ingin didengar. Power Up yang berhasil ya Bottom Up. (LH)

 

LaluHandani#KONSEPSI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *