PENGALAMAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM POWER UP DI DESA GELORA DAN DESA LOYOK KECAMATAN SIKUR – LOMBOK TIMUR

PEMBENTUKAN KAUKUS PEREMPUAN DI DESA MONTONG BAAN & DESA MONTONG BAAN SELATAN KEC. SIKUR LOMBOK TIMUR
2 February 2018
Jumlah “Stunting” di Lombok Timur Harus Diturunkan
24 April 2018

Foto Bersama Kaukus Perempuan Desa Gelora

Bergabungnya saya dalam Program Power Up cukup memberikan tantangan dan motivasi yang besar, bagaimana tidak, masuknya program ini bertepatan dengan Pilkades di dua desa yang saya dampingi yakni Desa Gelora dan Desa Loyok. Selain itu, dinamika masyarakat yang masih kuat dengan budaya yang menomorduakan perempuan, serta belum memberikan ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembangunan di desa, menyebabkan saya harus berpikir dua tiga kali lebih banyak terkait strategi merubah cara pandang masyarakat tersebut.

Pada awalnya Desa Gelora tidak ada tapi karena luasnya  wilayah Desa Loyok maka kemudian diusulkan untuk pemekaran desa.  Singkat cerita, terbentuklah Desa Gelora sebagai bagian pemakaran dari DEsa Loyok.  Desa gelora sendiri memiliki luas lahan sawah subur cukup luas. Sementara penduduknya rata – rata merupakan petani, buruh, TKI, PNS, pedagang dan ada yang menjadi pengusaha diberbagai jenis usaha di bidang komoditi ataupun pakan ternak. Desa Gelora berada di timur Desa Loyok dan di selatan  berbatasan dengan Desa Kotaraja, di utara dengan Desa Kesik sementara di sebelah barat berbatasan dengan  Desa Kembang Kuning. Jumlah dusun di Desa Gelora ada empat yakni Dusun Rungkang, Dusun Gerami, Dusun tinggi, dan Dusun Srengat. Masing-masing dusun memiliki dua Posyandu yang melakukan kegiatan Posyandu sekali dalam sebulan. Sementara untuk Polindes dan Pustu baru akan dibangun di tahun 2018 berdasarkan hasil Musrembangdes tahun 2017 lalu.

Desa Loyok bisa dibilang ibu kandung Desa Gelora karena Desa Loyok lah yang awal mulanya mengandung Desa Gelora sebelum  dilahirkan melalui proses pemekaran. Belakangan banyak berkembang berita bahwa Desa Gelora lebih maju dibandingkan Desa Loyok sebagai Desa Induk, tetapi itu tergantung dari sudut mana penilaiannya. Bisa jadi penilaian orang yang tinggal di Desa Loyok berbeda dengan mereka yang tinggal di Desa Gelora. Hal ini harus ditelaah lebih jauh tetapi akan kita bicarakan pada waktu dan kesemptan berikutnya. Desa Loyok memiliki empat dusun yakni, Dusun Loyok, Dusun Ajan, Dusun Mangkling, dan Dusun LeLupi. Desa loyok memiliki posyandu di setiap dusunnya dan memiliki satu Pustu.

Dalam perjalanan pendampingan masyarakat di dua desa ini, tentunya saya harus berhati -hati dan  memberikan pemahaman bahwa keberadaan saya tidak dalam kapasitas berpolitik praktis terkait situasi politik dua desa tersebut. Ini adalah murni program untuk pembangunan desa khususnya perempuan melalui penggunaan teknologi untuk dapat berpartisipasi, beraspirasi, bersuara, dalam menentukan hak dan kebutuhan mereka sendiri.  Kenapa diawal tulisan ini saya sebutkan situasi yang ada di desa – desa ini masih menomorduakan perempuan, karna mereka selalu dianggap remeh,  atau kurang didengar, walaupun ada beberapa pihak yang mengatakan perempuan itu sendiri yang kurang berani berbicara walaupun anggapan ini tentu tidak sepenuhnya benar.  Sementara di sisi lain, saya  melihat di Musrembangdes hanya segelintir perempuan yang hadir, ini membuktikan kurang andilnya pemerintah desa dalam mendorong keterlibatan perempuan itu sendiri.

Baru-baru ini Desa Loyok mengadakan Musrembangdes tepatnya pada 23 Januari 2018, saya melihat ada perubahan, perwakilan perempuan cukup banyak walaupun keterlibatannya belum maksimal tapi melihat Musrembangdes di Desa Loyok sepertinya mereka berkomitmen mengedepankan pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan melalui Kaukus  Perempuan yang terbentuk melalui Program Power Up ini.

Sementara itu, setelah banyak berdiskusi dengan Kepala Desa Gelora, komitment mereka untuk pemberdayan masyarakat khususnya kelompok perempuan cukup kuat. Kepala Desa Loyok dan Gelora menegaskan kembali berulang kali pada acara pembentukan Kaukus Perempuan pada tanggal 18 – 19 januari 2018.

Proses Pembentukan Kaukus Perempuan

Dari beberapa kegiatan yang  dilaksanakan terutama tentang “gender”, kedua desa ini, memiliki nilai tidak terlalu jauh berdasarkan hasil pre test dan post test. Program Power Up melakukan pre test dan post test untuk melihat sejauh mana pemahaman masyarakat tentang gender, sebelum materi dan sesudah materi pelatihan gender diberikan. Misalnya di  Desa Gelora, nilai peserta rata-rata di bawah 50% untuk tingkat pemahaman pada saat pre test. Sama halnya dengan yang terjadi di Desa Loyok. Hal ini tidak berbeda jauh. Dan hasil post tes di kedua desa ini meningkat di atas 50%. Ternyata benar, tren peningkatan nilai peserta melonjak naik sesudah materi diberikan. Menurut saya, ada dua faktor yang menyebabkan peningkatan itu. Pertama, karena narasumber atau pemateri pelatihan yang menggunakan bahasa sederhana sehingga peserta mudah  menangkap  dan memahami materi pelatihan. Kedua, keseriusan peserta dalam mendengarkan materi – materi pelatihan dengan seksama dan penuh perhatian, tidak bercanda dan bergurau.

Intensitas politik di Gelora tak se “sexy” di Loyok, suasana di Gelora adem dan tenang tapi tentu ada riak – riak kecil. Sedangkan di Loyok bisa bergejolak setiap saat karena memang ada peristiwa sebelumnya yang bisa memperkeruh suasana di sana. Di Desa Loyok, saya sempat menunda pelaksanaan kegiatan FDG bahkan kemudian dibatalkan karena intensitas politik menjelang Pilkades disana. Setiap ada pertemuan atau berkumpulnya orang dikhawatirkan menjadi ajang  bagi – bagi duit. (money politic).  Saat itu saya membawa rombongan tamu dari Jakarta untuk meninjau pelaksanaan FGD. Setelah mendengarkan  masukan dan saran dari beberapa rekan dan staff desa serta wakil BPD Loyok serta demi kenyamanan dan ketenteraman desa, selain itu untuk tidak memperkeruh suasana di Desa Loyok, dan di sisi lain untuk  kenyamanan rekan – rekan dari Jakarta, maka diputuskan untuk tidak melanjutkan kegiatan FGD.

Inilah sekelumit pengalaman saya dalam melakukan pendampingan masyarakat di Program Power Up di Desa Gelora dan Loyok. Mungkin belum banyak hal yang bisa dicapai tetapi cukup banyak pengalaman yang sudah saya lalui. Lain waktu akan saya sambung kembali cerita ini. Semangat!!!

#KONSEPSI #Eko Krismantono #Syarbaini Yanis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *