Tragedi Letusan Gunung Tambora yang Mengubah Wajah Dunia

Tragedi Letusan Gunung Tambora yang Mengubah Wajah Dunia

KONSEPSI – Letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 silam menjadi kisah yang tidak lekang oleh zaman karena diceritakan dari masa ke masa. Dampak gunungapi yang hari ini tanggal 11 April menjadi penanda sejarah dahsyatnya tragedi letusan Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa, Provinsi NTB.

Tim media KONSEPSI menghubungi Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda NTB, Kusnadi. Lalu ia menceritakan ulang tentang sejarah dan dampak letusan Gunung Tambora di masa lalu. Kusnadi menuturkan bahwa dahulu kala Tambora merupakan daerah yang subur.

Di bawah kaki gunung ini berdiri tiga kerajaan, yaitu Sanggar, Tambora dan Pekat. Tanah vulkanik yang subur dan mata air yang jernih mengalir dari puncak gunung, memenuhi kebutuhan hidup seluruh makhluk yang ada di lerengnya. Begitu juga dengan masyrakat yang ada di tiga kerajaan tersebut.

Kehidupan tiga kerajaan itu bisa disebut makmur, karena pertanian dan perkebunan rempah-rempah yang tumbuh dengan subur di sekitar kerajaan. Hal itu membuka kesempatan dagang dengan negara luar. Ini terlihat dari temuan artefak berupa keramik dan perkakas lainnya yang membuktikan betapa makmurnya kerajaan-kerajaan waktu itu.

“Sebagai gunungapi aktif, kejadian letusan Tambora merupakan hal yang lumrah di puncak gunung Tambora. Tapi tidak benar-benar berdampak buruk bagi ketiga kerajaan saat itu. Sampai pada tahun 1815, kejadian yang sangat memilukan itu terjadi.

Kehidupan berjalan sebagai mana mestinya pada tahun tersebut, tapi keanehan sudah mulai terjadi dari tahun sebelumnya,” tutur Kusnadi, Selasa (11/4/2023).

Suara gemuruh dan dentuman lebih sering terdengar dari atas gunung. Getaran gempa vulkanik pun makin sering terjadi dan bahkan binatang liar yang jarang terlihat di perkampungan penduduk sering menampakkan diri. Masyarakat dengan pemahaman yang kurang, tidak terlalu menanggapi keanehan-keanehan tersebut. Hingga pada akhir Maret atau awal April tahun 1815, kejadian-kejadian aneh makin sering terjadi.

Pada waktu Subuh di tanggal 11 April tahun 1815, gemuruh dan dentuman yang sangat dahsyat terdengar dari arah puncak gunung Tambora, masyarakat di Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora yang tepat berada di lereng bagian Utara dan Barat Laut tidak sempat menyelamatkan diri.

Mereka tertimbun oleh jutaan kubik material pyroklastik panas yang mengalir bak air bah dan jatuh bak air hujan yang deras. Dalam sekejap dua kerajaan hilang ditelan bumi.

“Kerajaan Sanggar yang berada lebih jauh masih berkesempatan untuk menyelamatkan diri, sehingga tidak semua penduduk kerajaan musnah. Hanya saja dampak lanjutan dari kejadian itu membawa wabah dan bencana kelaparan bagi masyarakat kerajaan, sehingga banyak yang meninggal setelahnya,” ungkap Kusnadi.

Letusan dahsyat berlangsung tiga sampai lima hari lamanya, seluruh makhluk hidup yang ada di lereng Tambora terutama bagian Utara, Timur dan Barat musnah oleh lontaran batu pijar dan awan panas yang mengalir bak gelombang tsunami.

Meluasnya Dampak Letusan

Kejadian itu membawa pilu yang sangat mendalam bagi seluruh masyarakat yang masih selamat, mereka banyak kehilangan sanak saudara dan menghadapi wabah penyakit akibat menghirup debu vulkanik dan kelaparan berkepanjangan karena pertanian dan perkebunan musnah.

“Di belahan bumi lain seperti Eropa dan Amerika, kejadian tersebut mungkin tidak langsung dirasakan dampaknya tapi kejadian yang terjadi pada musim gugur tersebut seketika merubah pola musim di Eropa yang biasanya bulan Mei sampai Agustus sebagai musim panas, tiba-tiba tidak terjadi musim panas sama sekali,” jelasnya.

Seketika langit di Eropa ditutupi oleh awan yang tebal dan jatuh bak guguran salju yang tidak mencair. Awan tersebut menghalangi matahari sehingga tahun tersebut disebut tahun tanpa matahari di Eropa, kejadian tersebut berdampak pada kegagalan pertanian dan perkebunan dibenua itu.

“Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh karena matahari terhalang oleh awan dan terjadi hujan asam yang membunuh tanaman dan hewan ternak,” urai Kusnadi.

Masyarakat di Eropa mengalami bencana kelaparan yang parah. Banyak peristiwa besar terjadi, termasuk kekalahan Napoleon dalam perang di Waterloo. Kekalahan ini menghentikan dominasi dan agresi kerajaan Perancis di Eropa.

Letusan Tambora tahun 1815 itu tercatat sebagai salah satu letusan terdahsyat sepanjang masa, bahkan ketika letusan Rinjani tua (Samalas) belum ditemukan, maka letusan inilah yang dianggap letusan terdahsyat pada abad modern.

Berdasarkan perhitungan jumlah korban baik secara langsung maupun tidak langsung dari kejadian letusan ini adalah 92.000 jiwa, jumlah yang terbilang sangat banyak saat itu.

“Secara morfologi, berdasarkan pemodelan tinggi awal gunung Tambora sebelum meletus adalah sekitar 4.300 meter dari permukaan laut (mdpl) dan setelah letusan sekarang tingginya adalah 2.851 mdpl itu,” kata Kusnadi.

Letusan tersebut menghasilkan lubang kaldera dengan diameter rata-rata 7 km dan dalam sekitar 1 km. Setelah letusan tersebut kini muncul gunungapi baru yang disebut sebagai Doro Api To’i atau gunungapi kecil tepat di tengah-tengah Kaldera dan sudah mulai muncul danau di dalam kaldera.

Setelah letusan hebat 1815 tersebut muncul anak gunung api di dasar kaldera yang disebut sebagai Doro Afi Toi.

Hari ini, tepat 208 tahun setelah kejadian letusan dahsyat tersebut, sudah lebih dari 2 abad letusan itu terjadi. Wajah Tambora saat ini sudah sangat berbeda dari saat sebelum letusan. Akan tetapi pesona, keindahan dan kesuburan kawasan Tambora tetap menjadi daya tarik untuk orang datang walau hanya untuk sesaat menikmati keindahannya.

“Setelah letusan tersebut memang tidak ada sejarah lagi mengenai pembentukan kerajaan baru di kawasan ini, tapi setelah kejadian itu, pengusaha dari Belanda datang untuk menanam kopi dilereng Utara Tambora sehingga sampai saat ini Tambora terkenal sebagai penghasil kopi yang nikmat bernama kopi Tambora,” cerita Kusnadi.

Salah satu jalur pendakian ke Taman Nasional Gunung Tambora

Kini, masyarakat yang mendiami Tambora adalah warga yang merupakan percampuran antara suku asli Mbojo, dengan masyarakat pendatang dari Sasak, Bali dan Samawa serta dari Jawa.

Nama besar Tambora setelah 2 abad diabadikan sebagai sebuah festival yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2015, tepat 2 abad meletusnya Tambora. Nama besar Tambora juga telah membawanya menjadi salah satu geopark nasional pada tahun 2017 dan kini statusnya sedang berproses untuk diusulkan menjadi UNESCO Global Geopark.

“Masih proses menjadi Warisan Bumi tahun ini, ditargetkan tahun depan sudah bisa diajukan sebagai UGGPs,” ungkap Kusnadi.[*]

Pewarta: Harianto
Sumber foto: BTN Tambora

Bagikan Tulisan ini:

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Berita lainnya

Artikel Popular

Artikel Terbaru

Berlangganan Berita Kami

Jangan lewatkan Update Kegiatan-kegiatan terbaru dari Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!