Training of Trainers Fasilitator Sekolah Lapang Iklim Berbasis Gender Bagi Komunitas Petani Tadah Hujan, Petambak Garam dan Pembudidaya Lobster

Konsultasi Publik Rencana Aksi Daerah (RAD) Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi Nusa Tenggara Barat.
31 October 2019

Perubahan iklim yang dinamis sangat berdampak pada sumber – sumber penghidupan masyarakat terutama  sektor pertanian dan perikanan  di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan kejadian iklim ekstrim yang sering terjadi. Kejadian iklim ekstrim mengakibatkan petani kesulitan dalam melaksanakan usaha taninya maupun nelayan untruk melaut serta petambak garam dalam melakukan aktifitas produksi garam, misalnya dalam penentuan waktu dan pola tanam, pemilihan varietas, serta penanganan hama penyakit (OPT). Iklim ekstrim yang paling terlihat yaitu adanya kejadian kekeringan yang berkepanjangan diakibatkan curah hujan yang rendah atau hujan yang terus menerus yang mengakibatkan banjir di banyak tempat.

Penyelengaran Sekolah Lapang Iklim ditingkat masyarakat petani, nelayan dan petambak garam, merupakan sebuah upaya untuk  membangun ketahanan dan ketangguhan  masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Pada mulanya Sekolah Lapang Iklim  merupakan program yang digagas oleh BMKG, sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi dampak iklim ekstrim. SLI adalah sekolah lapang yang dilaksanakan di alam terbuka dengan memberdayakan petani agar mampu membaca kondisi iklim serta kearifan lokal untuk melaksanakan budidaya pertanian spesifik lokasi agar dapat meminimalisir penurunan produksi sebagai dampak fenomena iklim ekstrim seperti banjir atau kekeringan. Melalui sekolah lapang iklim para petani maupun penyuluh diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani apabila terjadi perubahan iklim ekstrim.

Sebelumnya, KONSEPSI sebagai mitra lokal Islamic Relief dalam pelaksanaan Proyek “Dukungan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan hak-hak mereka terkait informasi perubahan iklim“ bekerja sama dengan BMKG Lombok Barat dan Fakultas Pertanian serta Jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas  Mataram, telah menyusun modul sekolah lapang iklim yang sesuai dan dapat diterapkan pada 3 komunitas yang berbeda yaitu; petani tadah hujan, petambak garam dan pembudidaya lobster. Modul – modul tersebut juga sudah diuji coba dan disosialisasikan pada kegiatan Training with Trainer fasilitator Sekolah Lapang Iklim Berbasis Gender bagi Komunitas Petani Tadah Hujan, Petambak Garam dan Pembudidaya Lobster yang diselenggarakan, Mataram, 4 – 7 November 2019.

Kegiatan ini bertujuan Melatih peserta untuk menjadi fasilitator SLI yang memiliki kompetensi, Membangun komitmen dengan peserta untuk menjadi fasilitator SLI selama 3 bulan dan Melatih keterampilan memfasilitasi sekolah lapang Iklim untuk 3 komunitas; petani tadah hujan, petambak garam dan pembudidaya lobster. Pelatihan ini juga diikuti oleh Dinas LHK, BMKG, Akademisi dan Tiga kelompok fasilitator untuk Tiga komunitas.

Menurut Moh. Taqiuddin selaku dir. Konsepsi, Pemberian pengetahuan kepada para petani saya kira itu penting, karena menyangkut kemampuan antisipasi karena banyak kajian-kajian teori tentang perubahan iklim, adaptasi itu tidak bisa kita lakukan kalau belum melakukan antisipasi karena antisipasi itulah yang menjadi basis dari adaptasi tersebut. Kalau adaptasi tersebut merupakan langkah untuk penyesuaian sedangkan antisipasi adalah kemampuan untuk menggambarkan apa yang akan kita hadapi. Apabila kita sudah memiliki gambaran tentang hal-hal kedepan maka kita sudah mampu melakukan adaptasi sehingga itu nanti menyangkut dengan keputusan.

“Saya pikir memang nanti ketika teman-teman fasilitator nanti akan mendapatkan modul, kalau tidak salah nanti ada 12 modul dalam satu paket tersebut yang di dalamnya terdapat dengan 8 gambaran umum dan 4 gambaran khusus yang di dalamnya juga termasuk dari hasil dengan BMKG tentang pengetahuan iklim dan yang lainnya yang lebih spesifik terkait dengan tadah hujan, garam dan lobster. Maka perlu dilakukan penguatan kepada fasilitator karena bisa jadi tidak 100% yang disampaikan kepada bapak ibu belum tentu bisa diterima semuanya di tengah komunitas karena ada nantinya tantangan-tantangan yang terjadi nanti ketika di lapangan,” jelasnya.

Lebih lanjut Ibu Ela Selaku Kordinator Islamic Relief wilayah NTB mengatakan, terkait dengan program yang ada di NTB ini, khususnya kegiatan ini masyarakat harus mendapatkan informasi tentang Perubahan Iklim dan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut. serta “saya sudah sampaikan kepada semua masyarakat dan public yang berkaitan dengan pelaksanaan program Islamic Relief agar dilakukan pelaporan atau menyampaikan complain karena kita punya tim di Jakarta yang akan menindaklanjuti”.

Kegiatan ini diharapkan, Menambah ilmu untuk memahami perubahan cuaca dan iklim yang akan mempengaruhi produksi petani lobster, dan yang lainnya. Perubahan karakter pola tanam masyarakat dari tradisional kepada teknologi modern. Petani memiliki kemampuan dalam memanfaatkan informasi untuk proses produksi. Mampu memiliki kesiapan mental ketika menghadapu kondisi dilapangan dan dapat merumuskan kebijakan sehingga dapat memecahkan persoalannya. Memberikan hal-hal yang sifatnya praktis dan aplikatif. Membangun teamwork yang solid. Munculnya pedoman dan acuan yang sifatnya teknis untuk bisa kita laksanakan bersama atau petunjuk teknis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *