{"id":11871,"date":"2023-10-01T11:53:11","date_gmt":"2023-10-01T03:53:11","guid":{"rendered":"https:\/\/konsepsi.org\/?p=11871"},"modified":"2023-12-07T14:50:15","modified_gmt":"2023-12-07T06:50:15","slug":"ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/","title":{"rendered":"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas"},"content":{"rendered":"<h6 class=\"entry-sub-title\">Oleh Melky Koli Baran [Flores Timur]<\/h6>\n<p>Rabu, 27 September 2023,\u00a0<em>Vioce for Just Climate Action<\/em>\u00a0(VCA) Indonesia Program menggelar diskusi virtual dengan mengusung tema\u00a0<em>Raising Awareness<\/em>\u00a0sebagai\u00a0<em>Tematic Learning<\/em>.<\/p>\n<p>Diskusi yang menghadirkan mitra VCA Indonesia ini diorganisir \u00a0C4Ledger \u00a0(<em>Consortium for Knowledge Management Brokering<\/em>), salah satu grup mitra VCA Inodonesia di bawah SSN (<em>South South North<\/em>).<\/p>\n<p><em>Tematic Learning<\/em>\u00a0dimoderatori oleh Suyono dari Lembaga Transform Mataram, salah satu Lembaga anggota C4Ledger dan Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial Flores Timur, Melky Koli Baran sebagai Host. Sedangkan nara sumber tunggal \u00a0yakni Vinsensius Bureni, Direktur Bengkel APPEK Kupang NTT beserta dua perempuan dari komunitas selaku pemantik diskusi.<\/p>\n<figure style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/floresgenuine.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/melki-koli-baran02-300x194.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"194\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Anna Maria Selviana<\/figcaption><\/figure>\n<p>Nona Anna Maria Selviana dari Komunitas Humanis Maumere, salah satu komunitas dari Koalisi Kopi dibawah grup Hivos Indonesia dan Siti Rhodiyah dari Women Federation Yogyakarta, sebuah komunitas binaan SPEAK Indonesia di bawah SDI.<\/p>\n<p>Sedianya menghadirkan Yan Pit Hein Yessa, wakil pemuda dan masyarakat adat dari kampung Resye dan Womom, Tembrau, Papua Barat Daya, komunitas binaan Pioner Tanah Papua di bawah WWF. Namun, karena hambatan teknis testimoni dari Tanah Papua batal tayang.<\/p>\n<p><strong><em>23 Komunitas Orang Muda<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Ketika puluhan komunitas orang muda terorganisir dan gencar berkampanye tentang perubahan iklim di daerahnya, itu tidak tepas dari\u00a0<em>raising awareness<\/em>. Dari Maumere, Flores Anna Maria Selviana membagi cerita gembira ini. Di sana sedang berlangsung aksi-aksi orang muda peduli iklim.<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan dan analisis dilakukan, di kabupaten Sikka berkembang isu kekeringan, kebakaran hutan serta lahan dan menurunnya debit air tanah yang berlangsung dari tahun ke tahun. Demikian pula suhu dan temperatur udara terus meningkat dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p>Diceritakan Anna Maria bahwa proses membangun\u00a0<em>awareness<\/em>\u00a0di kalangan orang muda sungguh menarik, namun penuh tantangan. Mengelindingkan isu perubahan iklim sebagai tema diskusi dengan orang muda, tidak selamanya menarik perhatian mereka. Dalam analisis didapatkan bahwa orang muda ternyata tahu dan menyadari realitas sekitar kehidupannya.<\/p>\n<p>Mereka sadar bahwa suhu dan temperatur udara semakin meningkat dari waktu ke waktu. Demikian pula dengan debit sumber air yang terus menurun bahkan ada mata air yang mulai kering. Namun bagi mereka, realitas ini, belum terhubung dengan isu perubahan iklim global.<\/p>\n<p>Dalam analisis Anna Maria, didapatkan bahwa orang muda tertarik bergabung dalam komunitas untuk sekedar ingin tampil, bisa berbagi story di media sosial.<\/p>\n<p>\u201cInilah pintu masuk membangun\u00a0<em>awareness<\/em>\u00a0dan mengorganisir orang muda.Dalam perjalanan waktu awareness tentang perubahan iklim pun tumbuh di kalangan orang muda. Kini telah hadir dua puluh tiga komunitas orang muda yang aktif berkampanye ke publik tentang perubahan iklim. Melalui media social, suara orang muda ini menembus dan menyasar berbagai kalangan,\u201d terang Anna Maria dari Komunitas Humanis Maumere, Kabupaten Sikka.<\/p>\n<p>Dia juga menjelaskan bahwa, masyarakat juga menyumbang krisis iklim. Seperti masalah ekonomi, rendahnya pendidikan generasi muda karena putus sekolah.<\/p>\n<p>\u201cMasalah ekonomi mendesak diselesaikan, dengan keterbatasan pengetahuan, sehingga alam lingkungan dijadikan obyek ekonomi. Hutan sekitar mata air ditebang sehingga debit air turun,\u201dbeber dia.<\/p>\n<p>Untuk itu, dalam aksi-aksi orang muda, mereka melakukan\u00a0<em>field trip<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>live in<\/em>\u00a0di tengah masyarakat. Di sana terbangun diskusi dan menumbuhkan kesadaran bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Dari kesadaran inilah orang muda bergandengan dengan masyarakat untuk kemudian bergerak bersama melakukan penanaman pohon-pohon di sekitar mata air dan kampanye untuk menghilangkan kebiasaan membakar lahan dan hutan. Harapannya, ke depan bumi dapat pulih menjadi lebih baik.<\/p>\n<p>Selain itu, hasil analisis serta aksi-aksi lapangan disuarakan pula ke level kabupaten melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Dari sini, sektor-sektor pembangunan terdorong untuk terlibat dalam berbagai aksi yang dibiayai oleh pemerintah.<\/p>\n<p><strong><em>Sampah Selesai di Rumah Tangga<\/em><\/strong><\/p>\n<figure style=\"width: 194px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/floresgenuine.com\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/meliki-koli-baran03-194x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"194\" height=\"300\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Siti Rhodiyah<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sementara itu, Siti Rhodiyah dari Komunitas Urban Kota dan Leader Women Federation Yogyakarta berbagi cerita tentang kepeloporan para perempuan memerangi pencemaran lingkungan. Menurut Siti, salah satu yang menonjol di perkotaan adalah sampah rumah tangga. Menurut dia, di komunitas perkotaan yang padat penduduk, salah satu sumber sampah adalah rumah tangga.<\/p>\n<p>Sampah-sampah tersebut beranegaragam dan bercampuraduk.\u00a0<em>Awareness<\/em>\u00a0yang dilakukan oleh Women Federation adalah memastikan bahwa sampah dapat terurus sejak dari rumah tangga.<\/p>\n<p>\u201cMasalah sampah harus selesai di tingkat rumah tangga, secara khusus sampah organic,\u201d ujar Siti yang juga pembina salah satu bank sampah di Yogyakarta.<\/p>\n<p>Ia lalu menjelaskan kiat dan strategi yang dilakukan Women Federation dalam menangani sampah di kota tersebut. Salah satu kiat sederhana yakni pemilahan sampah mulai dari rumah tangga.<\/p>\n<p>Sampah dipilah antara sampah organik dan sampah yang non organik. Sampah organik dapat diolah di rumah tangga menjadi pupuk tanaman sedangkan sampah non organik dijual ke bank sampah.<\/p>\n<p>\u201cDengan\u00a0<em>awareness<\/em>\u00a0ini, warga paham bahwa yang mereka urus bukan sampah tetapi komoditi,\u201dujarnya.<\/p>\n<p>Di samping itu, setiap bulan mereka lakukan pertemuan rutin sesama para nasabah bank sampah. Selain mereka meng\u00a0<em>up<\/em>\u00a0<em>date<\/em>\u00a0harga sampah, anak-anak yang hadir juga diberi pengertian untuk membawa pulang sampah ke rumahnya. Sampah organik diolah di rumah untuk menjadi pupuk. Sedangkan sampah non organik dikumpulkan untuk kemudian dijual ke bank sampah.<\/p>\n<p>\u201cTidak banyak uang dari menjual sampah, tetapi menjadi kebahagiaan bagi anak-anak ini bahwa dari sampah mereka mendapat uang,\u201d cerita Siti perihal bagaimana dia mengedukasi anak-anak agar peduli sampah.<\/p>\n<p>Bahkan dia mengatakan, di kelompok pengajian pun mereka bicara tentang penanganan masalah sampah. Tak itu saja, mereka juga mengutip hadits tentang kebersihan lingkungan dan kebersihan diri untuk dijadikan sebagai sumber membangun\u00a0<em>awareness<\/em>\u00a0warga.<\/p>\n<p>Pendekatam lain yang dilakukan yakni bekerja sama dengan pegadaian. Di sinilah, sampah dapat menjadi emas. Dengan mengumpulkan sampah senilai minimal 200 ribu rupiah, mereka bisa memperoleh emas dari pegadaian. Ia menyebutkan, yang menggembirakan adalah para nasabah bank sampah, berkembang motivasinya.<\/p>\n<p>\u201cTidak semata-mata berorientasi pada uang, tetapi juga pada keselamatan kehidupan bersama,\u201d terang dia seraya menyebutkan bahwa jumlah nasabah 10 tahun lalu hanya 10 orang tapi terus berkembang menjadi 80 orang\u201d kata Siti bangga mengakhiri terstimoninya.<\/p>\n<p><strong><em>Tanggungjawab Pembangunan<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Di ujung\u00a0<em>virtual thematic learning<\/em>\u00a0VCA Indonesia Program menggarisbawahi perlunya\u00a0<em>rising awareness<\/em>\u00a0yang berkelanjutan di berbagai lini dengan memberi warnah-warnah baru sebagai cerita khas VCA Indonesia.<\/p>\n<p>Perubahan iklim mesti terus dikampanyekan sebagai permasalahan bersama bangsa, sebagai tantangan pembangunan. Forum diskusi ini juga mewacanakan agar membuka lagi sesi berikutnya yang mengupas perihal tanggungjawab bersama berbagai\u00a0<em>stakeholders<\/em>\u00a0kunci dalam memitigasi laju perubahan iklim.<\/p>\n<p>Melky Koli Baran selaku host menjelaskan bahwa suhu dan temperature bumi terus meningkat akibat pemanasan global dan terus menuju kepada pendidihan global, jika kondisi saat ini dibiarkan terus berjalan tanpa ada upaya untuk mengurangi atau menghentikannya.<\/p>\n<p>Sedangkan Trias dari Hivos menantang peserta untuk menjadikan momentum politik pemilihan umum yang ada di depan mata sebagai kesempatan membangun\u00a0<em>awareness<\/em>\u00a0seluas-luasnya ke para pelaku politik termasuk para pemilih. Hal ini dapat menjadi salah satu agenda diskusi selanjutnya.<\/p>\n<p>\u201cKarena perubahan iklim itu nyata. Dampaknya merebak ke berbagai lini kehidupan. Karena itu, menjadi tanggungjawab bersama para pihak untuk mencegahnya,\u201d kata host diskusi menutup kegiatan\u00a0<em>t<\/em><em>ematic\u00a0<\/em><em>l<\/em><em>earning<\/em>\u00a0siang itu.*<\/p>\n<p>sumber: <a href=\"https:\/\/floresgenuine.com\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/\">https:\/\/floresgenuine.com\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Melky Koli Baran [Flores Timur] Rabu, 27 September 2023,\u00a0Vioce for Just Climate Action\u00a0(VCA) Indonesia Program menggelar diskusi virtual dengan mengusung tema\u00a0Raising Awareness\u00a0sebagai\u00a0Tematic Learning. Diskusi yang menghadirkan mitra VCA Indonesia ini diorganisir \u00a0C4Ledger \u00a0(Consortium for Knowledge Management Brokering), salah satu grup mitra VCA Inodonesia di bawah SSN (South South North). Tematic Learning\u00a0dimoderatori oleh Suyono dari Lembaga Transform Mataram, salah satu Lembaga anggota C4Ledger dan Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial Flores Timur, Melky Koli Baran sebagai Host. Sedangkan nara sumber tunggal \u00a0yakni Vinsensius Bureni, Direktur Bengkel APPEK Kupang NTT beserta dua perempuan dari komunitas selaku pemantik diskusi. Nona Anna Maria Selviana dari Komunitas Humanis Maumere, salah satu komunitas dari Koalisi Kopi dibawah grup Hivos Indonesia dan Siti Rhodiyah dari Women Federation Yogyakarta, sebuah komunitas binaan SPEAK Indonesia di bawah SDI. Sedianya menghadirkan Yan Pit Hein Yessa, wakil pemuda dan masyarakat adat dari kampung Resye dan Womom, Tembrau, Papua Barat Daya, komunitas binaan Pioner Tanah Papua di bawah WWF. Namun, karena hambatan teknis testimoni dari Tanah Papua batal tayang. 23 Komunitas Orang Muda Ketika puluhan komunitas orang muda terorganisir dan gencar berkampanye tentang perubahan iklim di daerahnya, itu tidak tepas dari\u00a0raising awareness. Dari Maumere, Flores Anna Maria Selviana membagi cerita gembira ini. Di sana sedang berlangsung aksi-aksi orang muda peduli iklim. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan dan analisis dilakukan, di kabupaten Sikka berkembang isu kekeringan, kebakaran hutan serta lahan dan menurunnya debit air tanah yang berlangsung dari tahun ke tahun. Demikian pula suhu dan temperatur udara terus meningkat dari waktu ke waktu. Diceritakan Anna Maria bahwa proses membangun\u00a0awareness\u00a0di kalangan orang muda sungguh menarik, namun penuh tantangan. Mengelindingkan isu perubahan iklim sebagai tema diskusi dengan orang muda, tidak selamanya menarik perhatian mereka. Dalam analisis didapatkan bahwa orang muda ternyata tahu dan menyadari realitas sekitar kehidupannya. Mereka sadar bahwa suhu dan temperatur udara semakin meningkat dari waktu ke waktu. Demikian pula dengan debit sumber air yang terus menurun bahkan ada mata air yang mulai kering. Namun bagi mereka, realitas ini, belum terhubung dengan isu perubahan iklim global. Dalam analisis Anna Maria, didapatkan bahwa orang muda tertarik bergabung dalam komunitas untuk sekedar ingin tampil, bisa berbagi story di media sosial. \u201cInilah pintu masuk membangun\u00a0awareness\u00a0dan mengorganisir orang muda.Dalam perjalanan waktu awareness tentang perubahan iklim pun tumbuh di kalangan orang muda. Kini telah hadir dua puluh tiga komunitas orang muda yang aktif berkampanye ke publik tentang perubahan iklim. Melalui media social, suara orang muda ini menembus dan menyasar berbagai kalangan,\u201d terang Anna Maria dari Komunitas Humanis Maumere, Kabupaten Sikka. Dia juga menjelaskan bahwa, masyarakat juga menyumbang krisis iklim. Seperti masalah ekonomi, rendahnya pendidikan generasi muda karena putus sekolah. \u201cMasalah ekonomi mendesak diselesaikan, dengan keterbatasan pengetahuan, sehingga alam lingkungan dijadikan obyek ekonomi. Hutan sekitar mata air ditebang sehingga debit air turun,\u201dbeber dia. Untuk itu, dalam aksi-aksi orang muda, mereka melakukan\u00a0field trip\u00a0dan\u00a0live in\u00a0di tengah masyarakat. Di sana terbangun diskusi dan menumbuhkan kesadaran bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Dari kesadaran inilah orang muda bergandengan dengan masyarakat untuk kemudian bergerak bersama melakukan penanaman pohon-pohon di sekitar mata air dan kampanye untuk menghilangkan kebiasaan membakar lahan dan hutan. Harapannya, ke depan bumi dapat pulih menjadi lebih baik. Selain itu, hasil analisis serta aksi-aksi lapangan disuarakan pula ke level kabupaten melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Dari sini, sektor-sektor pembangunan terdorong untuk terlibat dalam berbagai aksi yang dibiayai oleh pemerintah. Sampah Selesai di Rumah Tangga Sementara itu, Siti Rhodiyah dari Komunitas Urban Kota dan Leader Women Federation Yogyakarta berbagi cerita tentang kepeloporan para perempuan memerangi pencemaran lingkungan. Menurut Siti, salah satu yang menonjol di perkotaan adalah sampah rumah tangga. Menurut dia, di komunitas perkotaan yang padat penduduk, salah satu sumber sampah adalah rumah tangga. Sampah-sampah tersebut beranegaragam dan bercampuraduk.\u00a0Awareness\u00a0yang dilakukan oleh Women Federation adalah memastikan bahwa sampah dapat terurus sejak dari rumah tangga. \u201cMasalah sampah harus selesai di tingkat rumah tangga, secara khusus sampah organic,\u201d ujar Siti yang juga pembina salah satu bank sampah di Yogyakarta. Ia lalu menjelaskan kiat dan strategi yang dilakukan Women Federation dalam menangani sampah di kota tersebut. Salah satu kiat sederhana yakni pemilahan sampah mulai dari rumah tangga. Sampah dipilah antara sampah organik dan sampah yang non organik. Sampah organik dapat diolah di rumah tangga menjadi pupuk tanaman sedangkan sampah non organik dijual ke bank sampah. \u201cDengan\u00a0awareness\u00a0ini, warga paham bahwa yang mereka urus bukan sampah tetapi komoditi,\u201dujarnya. Di samping itu, setiap bulan mereka lakukan pertemuan rutin sesama para nasabah bank sampah. Selain mereka meng\u00a0up\u00a0date\u00a0harga sampah, anak-anak yang hadir juga diberi pengertian untuk membawa pulang sampah ke rumahnya. Sampah organik diolah di rumah untuk menjadi pupuk. Sedangkan sampah non organik dikumpulkan untuk kemudian dijual ke bank sampah. \u201cTidak banyak uang dari menjual sampah, tetapi menjadi kebahagiaan bagi anak-anak ini bahwa dari sampah mereka mendapat uang,\u201d cerita Siti perihal bagaimana dia mengedukasi anak-anak agar peduli sampah. Bahkan dia mengatakan, di kelompok pengajian pun mereka bicara tentang penanganan masalah sampah. Tak itu saja, mereka juga mengutip hadits tentang kebersihan lingkungan dan kebersihan diri untuk dijadikan sebagai sumber membangun\u00a0awareness\u00a0warga. Pendekatam lain yang dilakukan yakni bekerja sama dengan pegadaian. Di sinilah, sampah dapat menjadi emas. Dengan mengumpulkan sampah senilai minimal 200 ribu rupiah, mereka bisa memperoleh emas dari pegadaian. Ia menyebutkan, yang menggembirakan adalah para nasabah bank sampah, berkembang motivasinya. \u201cTidak semata-mata berorientasi pada uang, tetapi juga pada keselamatan kehidupan bersama,\u201d terang dia seraya menyebutkan bahwa jumlah nasabah 10 tahun lalu hanya 10 orang tapi terus berkembang menjadi 80 orang\u201d kata Siti bangga mengakhiri terstimoninya. Tanggungjawab Pembangunan Di ujung\u00a0virtual thematic learning\u00a0VCA Indonesia Program menggarisbawahi perlunya\u00a0rising awareness\u00a0yang berkelanjutan di berbagai lini dengan memberi warnah-warnah baru sebagai cerita khas VCA Indonesia. Perubahan iklim mesti terus dikampanyekan sebagai permasalahan bersama bangsa, sebagai tantangan pembangunan. Forum diskusi ini juga mewacanakan agar membuka lagi sesi berikutnya yang mengupas perihal tanggungjawab bersama berbagai\u00a0stakeholders\u00a0kunci dalam memitigasi laju perubahan iklim. Melky Koli Baran selaku host menjelaskan bahwa suhu dan temperature bumi terus meningkat akibat pemanasan global dan terus menuju kepada pendidihan global, jika kondisi saat ini dibiarkan terus berjalan tanpa ada upaya untuk mengurangi atau menghentikannya. Sedangkan Trias dari Hivos menantang peserta untuk menjadikan momentum politik pemilihan umum yang ada di<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11872,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,60,109],"tags":[13,110,111],"class_list":["post-11871","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-inclick-mnet-program","category-vca-indonesia","tag-climate-change","tag-global-warming","tag-suhu-bumi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas - KONSEPSI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/konsepsi.org\/en\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas - KONSEPSI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh Melky Koli Baran [Flores Timur] Rabu, 27 September 2023,\u00a0Vioce for Just Climate Action\u00a0(VCA) Indonesia Program menggelar diskusi virtual dengan mengusung tema\u00a0Raising Awareness\u00a0sebagai\u00a0Tematic Learning. Diskusi yang menghadirkan mitra VCA Indonesia ini diorganisir \u00a0C4Ledger \u00a0(Consortium for Knowledge Management Brokering), salah satu grup mitra VCA Inodonesia di bawah SSN (South South North). Tematic Learning\u00a0dimoderatori oleh Suyono dari Lembaga Transform Mataram, salah satu Lembaga anggota C4Ledger dan Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial Flores Timur, Melky Koli Baran sebagai Host. Sedangkan nara sumber tunggal \u00a0yakni Vinsensius Bureni, Direktur Bengkel APPEK Kupang NTT beserta dua perempuan dari komunitas selaku pemantik diskusi. Nona Anna Maria Selviana dari Komunitas Humanis Maumere, salah satu komunitas dari Koalisi Kopi dibawah grup Hivos Indonesia dan Siti Rhodiyah dari Women Federation Yogyakarta, sebuah komunitas binaan SPEAK Indonesia di bawah SDI. Sedianya menghadirkan Yan Pit Hein Yessa, wakil pemuda dan masyarakat adat dari kampung Resye dan Womom, Tembrau, Papua Barat Daya, komunitas binaan Pioner Tanah Papua di bawah WWF. Namun, karena hambatan teknis testimoni dari Tanah Papua batal tayang. 23 Komunitas Orang Muda Ketika puluhan komunitas orang muda terorganisir dan gencar berkampanye tentang perubahan iklim di daerahnya, itu tidak tepas dari\u00a0raising awareness. Dari Maumere, Flores Anna Maria Selviana membagi cerita gembira ini. Di sana sedang berlangsung aksi-aksi orang muda peduli iklim. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan dan analisis dilakukan, di kabupaten Sikka berkembang isu kekeringan, kebakaran hutan serta lahan dan menurunnya debit air tanah yang berlangsung dari tahun ke tahun. Demikian pula suhu dan temperatur udara terus meningkat dari waktu ke waktu. Diceritakan Anna Maria bahwa proses membangun\u00a0awareness\u00a0di kalangan orang muda sungguh menarik, namun penuh tantangan. Mengelindingkan isu perubahan iklim sebagai tema diskusi dengan orang muda, tidak selamanya menarik perhatian mereka. Dalam analisis didapatkan bahwa orang muda ternyata tahu dan menyadari realitas sekitar kehidupannya. Mereka sadar bahwa suhu dan temperatur udara semakin meningkat dari waktu ke waktu. Demikian pula dengan debit sumber air yang terus menurun bahkan ada mata air yang mulai kering. Namun bagi mereka, realitas ini, belum terhubung dengan isu perubahan iklim global. Dalam analisis Anna Maria, didapatkan bahwa orang muda tertarik bergabung dalam komunitas untuk sekedar ingin tampil, bisa berbagi story di media sosial. \u201cInilah pintu masuk membangun\u00a0awareness\u00a0dan mengorganisir orang muda.Dalam perjalanan waktu awareness tentang perubahan iklim pun tumbuh di kalangan orang muda. Kini telah hadir dua puluh tiga komunitas orang muda yang aktif berkampanye ke publik tentang perubahan iklim. Melalui media social, suara orang muda ini menembus dan menyasar berbagai kalangan,\u201d terang Anna Maria dari Komunitas Humanis Maumere, Kabupaten Sikka. Dia juga menjelaskan bahwa, masyarakat juga menyumbang krisis iklim. Seperti masalah ekonomi, rendahnya pendidikan generasi muda karena putus sekolah. \u201cMasalah ekonomi mendesak diselesaikan, dengan keterbatasan pengetahuan, sehingga alam lingkungan dijadikan obyek ekonomi. Hutan sekitar mata air ditebang sehingga debit air turun,\u201dbeber dia. Untuk itu, dalam aksi-aksi orang muda, mereka melakukan\u00a0field trip\u00a0dan\u00a0live in\u00a0di tengah masyarakat. Di sana terbangun diskusi dan menumbuhkan kesadaran bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Dari kesadaran inilah orang muda bergandengan dengan masyarakat untuk kemudian bergerak bersama melakukan penanaman pohon-pohon di sekitar mata air dan kampanye untuk menghilangkan kebiasaan membakar lahan dan hutan. Harapannya, ke depan bumi dapat pulih menjadi lebih baik. Selain itu, hasil analisis serta aksi-aksi lapangan disuarakan pula ke level kabupaten melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Dari sini, sektor-sektor pembangunan terdorong untuk terlibat dalam berbagai aksi yang dibiayai oleh pemerintah. Sampah Selesai di Rumah Tangga Sementara itu, Siti Rhodiyah dari Komunitas Urban Kota dan Leader Women Federation Yogyakarta berbagi cerita tentang kepeloporan para perempuan memerangi pencemaran lingkungan. Menurut Siti, salah satu yang menonjol di perkotaan adalah sampah rumah tangga. Menurut dia, di komunitas perkotaan yang padat penduduk, salah satu sumber sampah adalah rumah tangga. Sampah-sampah tersebut beranegaragam dan bercampuraduk.\u00a0Awareness\u00a0yang dilakukan oleh Women Federation adalah memastikan bahwa sampah dapat terurus sejak dari rumah tangga. \u201cMasalah sampah harus selesai di tingkat rumah tangga, secara khusus sampah organic,\u201d ujar Siti yang juga pembina salah satu bank sampah di Yogyakarta. Ia lalu menjelaskan kiat dan strategi yang dilakukan Women Federation dalam menangani sampah di kota tersebut. Salah satu kiat sederhana yakni pemilahan sampah mulai dari rumah tangga. Sampah dipilah antara sampah organik dan sampah yang non organik. Sampah organik dapat diolah di rumah tangga menjadi pupuk tanaman sedangkan sampah non organik dijual ke bank sampah. \u201cDengan\u00a0awareness\u00a0ini, warga paham bahwa yang mereka urus bukan sampah tetapi komoditi,\u201dujarnya. Di samping itu, setiap bulan mereka lakukan pertemuan rutin sesama para nasabah bank sampah. Selain mereka meng\u00a0up\u00a0date\u00a0harga sampah, anak-anak yang hadir juga diberi pengertian untuk membawa pulang sampah ke rumahnya. Sampah organik diolah di rumah untuk menjadi pupuk. Sedangkan sampah non organik dikumpulkan untuk kemudian dijual ke bank sampah. \u201cTidak banyak uang dari menjual sampah, tetapi menjadi kebahagiaan bagi anak-anak ini bahwa dari sampah mereka mendapat uang,\u201d cerita Siti perihal bagaimana dia mengedukasi anak-anak agar peduli sampah. Bahkan dia mengatakan, di kelompok pengajian pun mereka bicara tentang penanganan masalah sampah. Tak itu saja, mereka juga mengutip hadits tentang kebersihan lingkungan dan kebersihan diri untuk dijadikan sebagai sumber membangun\u00a0awareness\u00a0warga. Pendekatam lain yang dilakukan yakni bekerja sama dengan pegadaian. Di sinilah, sampah dapat menjadi emas. Dengan mengumpulkan sampah senilai minimal 200 ribu rupiah, mereka bisa memperoleh emas dari pegadaian. Ia menyebutkan, yang menggembirakan adalah para nasabah bank sampah, berkembang motivasinya. \u201cTidak semata-mata berorientasi pada uang, tetapi juga pada keselamatan kehidupan bersama,\u201d terang dia seraya menyebutkan bahwa jumlah nasabah 10 tahun lalu hanya 10 orang tapi terus berkembang menjadi 80 orang\u201d kata Siti bangga mengakhiri terstimoninya. Tanggungjawab Pembangunan Di ujung\u00a0virtual thematic learning\u00a0VCA Indonesia Program menggarisbawahi perlunya\u00a0rising awareness\u00a0yang berkelanjutan di berbagai lini dengan memberi warnah-warnah baru sebagai cerita khas VCA Indonesia. Perubahan iklim mesti terus dikampanyekan sebagai permasalahan bersama bangsa, sebagai tantangan pembangunan. Forum diskusi ini juga mewacanakan agar membuka lagi sesi berikutnya yang mengupas perihal tanggungjawab bersama berbagai\u00a0stakeholders\u00a0kunci dalam memitigasi laju perubahan iklim. Melky Koli Baran selaku host menjelaskan bahwa suhu dan temperature bumi terus meningkat akibat pemanasan global dan terus menuju kepada pendidihan global, jika kondisi saat ini dibiarkan terus berjalan tanpa ada upaya untuk mengurangi atau menghentikannya. Sedangkan Trias dari Hivos menantang peserta untuk menjadikan momentum politik pemilihan umum yang ada di\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/konsepsi.org\/en\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"KONSEPSI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/web.facebook.com\/konsepsi.ntb.1\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-01T03:53:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-12-07T06:50:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"780\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"470\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b8a10bf87389dcfb4fa3081475a4e211\"},\"headline\":\"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas\",\"datePublished\":\"2023-10-01T03:53:11+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-07T06:50:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/\"},\"wordCount\":1115,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg\",\"keywords\":[\"climate change\",\"Global Warming\",\"Suhu Bumi\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Inclick-MNet Program\",\"VCA Indonesia\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/\",\"name\":\"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas - KONSEPSI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg\",\"datePublished\":\"2023-10-01T03:53:11+00:00\",\"dateModified\":\"2023-12-07T06:50:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/10\\\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg\",\"width\":780,\"height\":470},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/\",\"name\":\"KONSEPSI\",\"description\":\"Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) NTB\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"KONSEPSI NTB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#organization\",\"name\":\"KONSEPSI\",\"alternateName\":\"Konsorsium Untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/favicon-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/favicon-1.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"KONSEPSI\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/web.facebook.com\\\/konsepsi.ntb.1\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b8a10bf87389dcfb4fa3081475a4e211\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8f35457eb65e4de181a5401f81df45635573ed6dc0664642afd54ecaa83b31c1?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8f35457eb65e4de181a5401f81df45635573ed6dc0664642afd54ecaa83b31c1?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8f35457eb65e4de181a5401f81df45635573ed6dc0664642afd54ecaa83b31c1?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\",\"admin\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/konsepsi.org\\\/en\\\/author\\\/admin\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas - KONSEPSI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas - KONSEPSI","og_description":"Oleh Melky Koli Baran [Flores Timur] Rabu, 27 September 2023,\u00a0Vioce for Just Climate Action\u00a0(VCA) Indonesia Program menggelar diskusi virtual dengan mengusung tema\u00a0Raising Awareness\u00a0sebagai\u00a0Tematic Learning. Diskusi yang menghadirkan mitra VCA Indonesia ini diorganisir \u00a0C4Ledger \u00a0(Consortium for Knowledge Management Brokering), salah satu grup mitra VCA Inodonesia di bawah SSN (South South North). Tematic Learning\u00a0dimoderatori oleh Suyono dari Lembaga Transform Mataram, salah satu Lembaga anggota C4Ledger dan Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial Flores Timur, Melky Koli Baran sebagai Host. Sedangkan nara sumber tunggal \u00a0yakni Vinsensius Bureni, Direktur Bengkel APPEK Kupang NTT beserta dua perempuan dari komunitas selaku pemantik diskusi. Nona Anna Maria Selviana dari Komunitas Humanis Maumere, salah satu komunitas dari Koalisi Kopi dibawah grup Hivos Indonesia dan Siti Rhodiyah dari Women Federation Yogyakarta, sebuah komunitas binaan SPEAK Indonesia di bawah SDI. Sedianya menghadirkan Yan Pit Hein Yessa, wakil pemuda dan masyarakat adat dari kampung Resye dan Womom, Tembrau, Papua Barat Daya, komunitas binaan Pioner Tanah Papua di bawah WWF. Namun, karena hambatan teknis testimoni dari Tanah Papua batal tayang. 23 Komunitas Orang Muda Ketika puluhan komunitas orang muda terorganisir dan gencar berkampanye tentang perubahan iklim di daerahnya, itu tidak tepas dari\u00a0raising awareness. Dari Maumere, Flores Anna Maria Selviana membagi cerita gembira ini. Di sana sedang berlangsung aksi-aksi orang muda peduli iklim. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan dan analisis dilakukan, di kabupaten Sikka berkembang isu kekeringan, kebakaran hutan serta lahan dan menurunnya debit air tanah yang berlangsung dari tahun ke tahun. Demikian pula suhu dan temperatur udara terus meningkat dari waktu ke waktu. Diceritakan Anna Maria bahwa proses membangun\u00a0awareness\u00a0di kalangan orang muda sungguh menarik, namun penuh tantangan. Mengelindingkan isu perubahan iklim sebagai tema diskusi dengan orang muda, tidak selamanya menarik perhatian mereka. Dalam analisis didapatkan bahwa orang muda ternyata tahu dan menyadari realitas sekitar kehidupannya. Mereka sadar bahwa suhu dan temperatur udara semakin meningkat dari waktu ke waktu. Demikian pula dengan debit sumber air yang terus menurun bahkan ada mata air yang mulai kering. Namun bagi mereka, realitas ini, belum terhubung dengan isu perubahan iklim global. Dalam analisis Anna Maria, didapatkan bahwa orang muda tertarik bergabung dalam komunitas untuk sekedar ingin tampil, bisa berbagi story di media sosial. \u201cInilah pintu masuk membangun\u00a0awareness\u00a0dan mengorganisir orang muda.Dalam perjalanan waktu awareness tentang perubahan iklim pun tumbuh di kalangan orang muda. Kini telah hadir dua puluh tiga komunitas orang muda yang aktif berkampanye ke publik tentang perubahan iklim. Melalui media social, suara orang muda ini menembus dan menyasar berbagai kalangan,\u201d terang Anna Maria dari Komunitas Humanis Maumere, Kabupaten Sikka. Dia juga menjelaskan bahwa, masyarakat juga menyumbang krisis iklim. Seperti masalah ekonomi, rendahnya pendidikan generasi muda karena putus sekolah. \u201cMasalah ekonomi mendesak diselesaikan, dengan keterbatasan pengetahuan, sehingga alam lingkungan dijadikan obyek ekonomi. Hutan sekitar mata air ditebang sehingga debit air turun,\u201dbeber dia. Untuk itu, dalam aksi-aksi orang muda, mereka melakukan\u00a0field trip\u00a0dan\u00a0live in\u00a0di tengah masyarakat. Di sana terbangun diskusi dan menumbuhkan kesadaran bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Dari kesadaran inilah orang muda bergandengan dengan masyarakat untuk kemudian bergerak bersama melakukan penanaman pohon-pohon di sekitar mata air dan kampanye untuk menghilangkan kebiasaan membakar lahan dan hutan. Harapannya, ke depan bumi dapat pulih menjadi lebih baik. Selain itu, hasil analisis serta aksi-aksi lapangan disuarakan pula ke level kabupaten melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Dari sini, sektor-sektor pembangunan terdorong untuk terlibat dalam berbagai aksi yang dibiayai oleh pemerintah. Sampah Selesai di Rumah Tangga Sementara itu, Siti Rhodiyah dari Komunitas Urban Kota dan Leader Women Federation Yogyakarta berbagi cerita tentang kepeloporan para perempuan memerangi pencemaran lingkungan. Menurut Siti, salah satu yang menonjol di perkotaan adalah sampah rumah tangga. Menurut dia, di komunitas perkotaan yang padat penduduk, salah satu sumber sampah adalah rumah tangga. Sampah-sampah tersebut beranegaragam dan bercampuraduk.\u00a0Awareness\u00a0yang dilakukan oleh Women Federation adalah memastikan bahwa sampah dapat terurus sejak dari rumah tangga. \u201cMasalah sampah harus selesai di tingkat rumah tangga, secara khusus sampah organic,\u201d ujar Siti yang juga pembina salah satu bank sampah di Yogyakarta. Ia lalu menjelaskan kiat dan strategi yang dilakukan Women Federation dalam menangani sampah di kota tersebut. Salah satu kiat sederhana yakni pemilahan sampah mulai dari rumah tangga. Sampah dipilah antara sampah organik dan sampah yang non organik. Sampah organik dapat diolah di rumah tangga menjadi pupuk tanaman sedangkan sampah non organik dijual ke bank sampah. \u201cDengan\u00a0awareness\u00a0ini, warga paham bahwa yang mereka urus bukan sampah tetapi komoditi,\u201dujarnya. Di samping itu, setiap bulan mereka lakukan pertemuan rutin sesama para nasabah bank sampah. Selain mereka meng\u00a0up\u00a0date\u00a0harga sampah, anak-anak yang hadir juga diberi pengertian untuk membawa pulang sampah ke rumahnya. Sampah organik diolah di rumah untuk menjadi pupuk. Sedangkan sampah non organik dikumpulkan untuk kemudian dijual ke bank sampah. \u201cTidak banyak uang dari menjual sampah, tetapi menjadi kebahagiaan bagi anak-anak ini bahwa dari sampah mereka mendapat uang,\u201d cerita Siti perihal bagaimana dia mengedukasi anak-anak agar peduli sampah. Bahkan dia mengatakan, di kelompok pengajian pun mereka bicara tentang penanganan masalah sampah. Tak itu saja, mereka juga mengutip hadits tentang kebersihan lingkungan dan kebersihan diri untuk dijadikan sebagai sumber membangun\u00a0awareness\u00a0warga. Pendekatam lain yang dilakukan yakni bekerja sama dengan pegadaian. Di sinilah, sampah dapat menjadi emas. Dengan mengumpulkan sampah senilai minimal 200 ribu rupiah, mereka bisa memperoleh emas dari pegadaian. Ia menyebutkan, yang menggembirakan adalah para nasabah bank sampah, berkembang motivasinya. \u201cTidak semata-mata berorientasi pada uang, tetapi juga pada keselamatan kehidupan bersama,\u201d terang dia seraya menyebutkan bahwa jumlah nasabah 10 tahun lalu hanya 10 orang tapi terus berkembang menjadi 80 orang\u201d kata Siti bangga mengakhiri terstimoninya. Tanggungjawab Pembangunan Di ujung\u00a0virtual thematic learning\u00a0VCA Indonesia Program menggarisbawahi perlunya\u00a0rising awareness\u00a0yang berkelanjutan di berbagai lini dengan memberi warnah-warnah baru sebagai cerita khas VCA Indonesia. Perubahan iklim mesti terus dikampanyekan sebagai permasalahan bersama bangsa, sebagai tantangan pembangunan. Forum diskusi ini juga mewacanakan agar membuka lagi sesi berikutnya yang mengupas perihal tanggungjawab bersama berbagai\u00a0stakeholders\u00a0kunci dalam memitigasi laju perubahan iklim. Melky Koli Baran selaku host menjelaskan bahwa suhu dan temperature bumi terus meningkat akibat pemanasan global dan terus menuju kepada pendidihan global, jika kondisi saat ini dibiarkan terus berjalan tanpa ada upaya untuk mengurangi atau menghentikannya. Sedangkan Trias dari Hivos menantang peserta untuk menjadikan momentum politik pemilihan umum yang ada di","og_url":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/","og_site_name":"KONSEPSI","article_publisher":"https:\/\/web.facebook.com\/konsepsi.ntb.1","article_published_time":"2023-10-01T03:53:11+00:00","article_modified_time":"2023-12-07T06:50:15+00:00","og_image":[{"width":780,"height":470,"url":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#\/schema\/person\/b8a10bf87389dcfb4fa3081475a4e211"},"headline":"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas","datePublished":"2023-10-01T03:53:11+00:00","dateModified":"2023-12-07T06:50:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/"},"wordCount":1115,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg","keywords":["climate change","Global Warming","Suhu Bumi"],"articleSection":["Berita","Inclick-MNet Program","VCA Indonesia"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/","url":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/","name":"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas - KONSEPSI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg","datePublished":"2023-10-01T03:53:11+00:00","dateModified":"2023-12-07T06:50:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#primaryimage","url":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg","contentUrl":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/melky-koli-baran01-780x470-1.jpeg","width":780,"height":470},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/ancaman-global-warming-kian-nyata-vca-indonesia-program-gelar-raising-awareness-komunitas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/konsepsi.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ancaman Global Warming Kian Nyata, VCA Indonesia Program Gelar Raising Awareness Komunitas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#website","url":"https:\/\/konsepsi.org\/","name":"KONSEPSI","description":"Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) NTB","publisher":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#organization"},"alternateName":"KONSEPSI NTB","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/konsepsi.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#organization","name":"KONSEPSI","alternateName":"Konsorsium Untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi","url":"https:\/\/konsepsi.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/favicon-1.png","contentUrl":"https:\/\/konsepsi.org\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/favicon-1.png","width":512,"height":512,"caption":"KONSEPSI"},"image":{"@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/web.facebook.com\/konsepsi.ntb.1"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/konsepsi.org\/#\/schema\/person\/b8a10bf87389dcfb4fa3081475a4e211","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8f35457eb65e4de181a5401f81df45635573ed6dc0664642afd54ecaa83b31c1?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8f35457eb65e4de181a5401f81df45635573ed6dc0664642afd54ecaa83b31c1?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8f35457eb65e4de181a5401f81df45635573ed6dc0664642afd54ecaa83b31c1?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin"},"sameAs":["https:\/\/konsepsi.org","admin"],"url":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/author\/admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11871","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11871"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11871\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11871"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11871"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/konsepsi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11871"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}