Mataram — Rizwan Rizkiandi (Pawan) dari KONSEPSI NTB, selaku Koordinator Nasional Jejaring Mitra Kemanusiaan (JMK), mewakili JMK dalam sesi berbagi pembelajaran dan refleksi pelokalan pada rangkaian kegiatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 di Provinsi Banten, Rabu (14/10/2026).
Dalam forum bertajuk “Future of Aid 2040: Sistem Kemanusiaan yang Berdaulat dan Berdikari”, Rizwan menyampaikan pentingnya memperkuat peran aktor lokal dalam sistem kemanusiaan Indonesia. Menurutnya, pelokalan tidak cukup dimaknai sebagai pemindahan pelaksanaan program kepada organisasi lokal, tetapi harus memastikan bahwa aktor lokal memiliki kepemimpinan, kewenangan, akses terhadap sumber daya, serta ruang pengambilan keputusan yang bermakna.
Transformasi sistem kemanusiaan membutuhkan kemitraan yang setara antara berbagai pihak, penguatan jejaring lokal, dan penempatan komunitas terdampak sebagai pusat pengambilan keputusan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat aktif dalam menentukan arah penanganan krisis dan upaya pemulihan di wilayahnya.
Rizwan juga menekankan bahwa perubahan mendasar dalam sistem kemanusiaan perlu diwujudkan melalui pemberian kewenangan dan sumber daya yang lebih besar kepada aktor lokal. Langkah ini menjadi bagian penting untuk membangun sistem kemanusiaan yang inklusif, berkeadilan, dan dipimpin oleh pihak yang paling memahami kebutuhan serta kondisi masyarakat setempat.
Kegiatan ini turut membuka ruang dialog dan pembelajaran bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk Yayasan Pujiono Centre Indonesia dan Konsorsium HST-LHL Indonesia, dalam mendorong penguatan kepemimpinan kemanusiaan lokal.
Melalui keterlibatan dalam forum ini, KONSEPSI NTB terus mendukung penguatan peran organisasi dan komunitas lokal dalam sistem kemanusiaan. Upaya tersebut sejalan dengan pentingnya membangun kolaborasi yang tidak hanya melibatkan aktor lokal dalam pelaksanaan program, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk menentukan keputusan dan arah kebijakan kemanusiaan.
Sistem kemanusiaan yang tangguh dan berkelanjutan perlu dibangun bersama aktor lokal, dengan menempatkan kepemimpinan masyarakat sebagai bagian utama dari proses perubahan.




