Tim Siaga Bencana Desa: Katalisator Ketangguhan Desa Dalam Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas di Kawasan Sembalun

Tim Siaga Bencana Desa: Katalisator Ketangguhan Desa Dalam Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas di Kawasan Sembalun

Sembalun merupakan nama sebuah daerah dataran tinggi di Pulau Lombok, letaknya di sebelah timur laut Pulau Lombok di ketinggian sekitar 1.200 meter dari permukaan laut (mdpl), serta menjadi bagian dari kawasan gunung berapi, yakni Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Secara administratif pemerintahan, daerah Sembalun terdapat di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sembalun dapat dijangkau dengan kendaraan motor dan mobil beroda empat. Jaraknya sekitar 35 km dari ibu kota Kabupaten Lombok Timur, yaitu Kota Selong dan dari ibu kota provinsi di Mataram sekitar 114 km melalui jalur selatan hingga ke salah satu desa di dataran ini, Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun. Kondisi topografi Sembalun dikelilingi oleh bukit-bukit dengan puncak tertinggi di Gunung Rinjani dimana terdapat Danau Segara Anak. Beberapa dari bukit tersebut merupakan kawasan hutan rimba dan kawasan padang ilalang. Dari antara lereng bukit terdapat mata air dan sungai yang airnya mengalir dan menjadi sumber mata air penduduk di Pulau Lombok.

 

Kawasan Sembalun termasuk wilayah berisiko tinggi dari ancaman sejumlah potensi bencana alam. Secara obyektif, letak dan posisi kawasan ini berada persis di kaki Gunung Rinjani sehingga sangat berpotensi menjadi wilayah terpapar gunung meletus. Dalam sejarahnya, Gunung Rinjani telah meletus sebanyak sembilan kali selama rentang waktu antara tahun 1847-2004 terutama di kisaran kalderanya. Banjir dan tanah longsor juga selalu mengancam setiap saat karena perbukitan semakin kritis dan tandus akibat dari maraknya penebangan pohon di Kawasan Hutan Gunung Rinjani. Tahun 2006, hantaman banjir bandang telah membawa korban jiwa (meninggal, luka-luka) dan kerugian lain hingga milyaran rupiah. Pada kejadian serupa 2012, bencana banjir bandang tidak sampai menelan korban jiwa dan besarnya kerugian dapat diminimalisir.

 

Tahun 2012, kondisinya telah jauh berbeda sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang pengurus Tim Siaga Bencana Desa (TSBD):“Tahun 2012 sudah terbentuk TSBD sehingga kalau ada tanda-tanda akan terjadi bencana kami segera menyiapkan masyarakat dengan melakukan peringatan dini terutama jika hujan terus menerus disertai awan hitan pekat. Masyarakat kita minta untuk mempersiapkan diri.Kamisudah memiliki prosedur kerja yang menjelaskan peran masing-masing anggota sehingga kami tahu apa yang harus dilakukan.”

 

Ketangguhan PRBBK ; Mengenali Ancaman, Mengurangi Kerentanan, Meningkatkan Kapasitas

Ikhtiar membangun ketangguhan masyarakat tampaknya mulai menunjukkan hasil jika berkaca dari perbedaan dinamika sosial pada dua kejadian bencana Tahun 2006 dan Tahun 2012. Di tingkat individu, setiap orang makin menyadari adanya resiko bencana sehingga budaya kesiap-siagaan untuk menghadapinya tumbuh dari hari ke hari. Sosialisasi dan penyadaran melalui berbagai media dan forum (poster, pamflet, khutbah jum’at) cukup efektif menggugah kesadaran masingmasing individu. Diharapkan, pengetahuan ini selalu ‘terdistribusi’ dari satu individu ke individu lainnya dalam keseharian mereka baik di tingkatan rumah tangga maupun unit sosial lainnya.

 

Penguatan kapasitas kesiap-siagaan individu yang relatif beragam ini diperkuat dengan keberadaan sebuah institusi sosial, yakni Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) untuk menjamin agar ‘benih-benih ketangguhan’ sebagaimana istilahnya seorang Praktisi Bencana bisa tersemaikan menjadi ‘budaya tangguh’ dalam kehidupan sosial (keseragaman). Cerita seputar kejadian banjir bandang Sembalun tahun 2012 tersebut telah menarik perhatian Pemerintah Daerah terhadap inisiasi setempat khususnya keberadaan TSBD. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok memandang pentingnya keberadaan lembaga siaga bencana tersebut dalam upaya mendorong aksi nyata PRB di level desa. BPBD telah memfasilitasi terbentuknya TSBD di 4 (empat) desa lain dengan mengambil pembelajaran dari proses pembentukan TSBD pada lokasi program pada tahun 2015. Selain itu, TSBD mendapat pengakuan hukum sebagai satu bentuk partisipasi masyarakat melalui pengaturan dengan pasal tersendiri di dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2012 tentang Penanggulangan Bencana di Kabupaten Lombok Timur.

 

Hingga tahun 2021, pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta dukungan para pihak telah bekerjasama dalam mengembangkan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) di desa-desa yang ada di Lombok Timur, khususnya pembentukan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) di kawasan yang rawan bencana. Hal ini tentu upaya untuk replikasi praktik baik PRBBK yang tumbuh dan berkembang di Sembalun, Lombok Timur.

 

Ujian Ketangguhan :  Guncangan Gempa 7.0 SR – Lombok 2018

Pada Juli – Agustus 2018, Pulau Lombok diguncang gempa bumi beruntun 6.9 SR hingga 7.0 SR. Gempa yang terjadi pada tahun 2018 tersebut menyebabkan wilayah Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara terdampak, termasuk Sembalun sebagai salah satu kecamatan di Lombok Timur yang terkena dampak paling parah. Kejadian gempa Lombok 2018 yang pusatnya di Sembalun mengakibatkan kerusakan infrastruktur bangunan termasuk pemukiman masyarakat, bahkan kerugian korban jiwa. Terdapat 10 orang meninggal di wilayah Sembalun.

 

Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang terdapat di Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang merupakan kelompok relawan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) yang terlibat langsung dalam melakukan respons bencana. Tentu ini menjadi ujian ketangguhan terhadap masyarakat di kawasan Sembalun, khususnya peran TSBD dalam merespons bencana yang terjadi. Gempa 2018 ini menjadi pengalaman pertama TSBD dalam menghadapi bencana gempa besar selama 10 tahun terbentuk.

 

Kejadian bencana ini menjadi sebuah pembelajaran penting bagi proses pembangunan ketangguhan desa di kawasan Kaki Rinjani, Sembalun. Pada masa tanggap darurat bencana gempa ini menjadi ruang untuk menerapkan kapasitas TSBD yang kaitannya dengan evakuasi dan pertolongan pertama, assessment korban dan kebutuhan pengungsi, distribusi logistic serta tindakan-tindakan pendukung dalam masa tanggap darurat.

 

Peristiwa ini jelas terekam sebagai bagian dari sejarah dalam merawat ketangguhan masyarakat di Sembalun. TSBD yang berperan sebagai leading sector  penanggulangan bencana di tingkat desa mendapatkan suatu pembelajaran baru dalam memahami kapasitas komunitas dalam merespons dan mengantisipasi bencana yang sama jika terjadi pengulangan kejadian ke depan. Upaya memperkuat peran TSBD dalam rangka membangun ketangguhan desa tentu menjadi keniscayaan atas kejadian bencana gempa yang menimpa Lombok, khususnya kawasan Sembalun. Gempa bumi Lombok menambah deretan kejadian bencana di wilayah Sembalun, yang selama ini terbiasa menghadapi bencana alam seperti banjir, longsor, erupsi gunung api, kebakaran hutan, pohon tumbang serta puting beliung.

 

Jejaring Respons Kemanusiaan

Pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) menjadi suatu perspektif dan metodelogi praktik dalam penanggulangan bencana yang melibatkan masyarakat secara langsung. PRBBK memiliki ciri visi penyelamatan hidup dan penghidupan berkelanjutan: Disaster Risk Management (DRM) sebagai ”public goods” dan hak-hak asasi manusia. Sehingga hal ini tentu akan membuka ruang kerja kolaboratif dalam merespons bencana yang terjadi di lintas kawasan sebagai upaya untuk menjamin hak-hak asasi manusia di masa pra-bencana, tanggap darurat dan pasca-bencana.

 

TSBD yang terdapat di 2 (dua) desa, yakni Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang melaksanakan respons kebencanaan yang terjadi di berbagai kawasan di Nusa Tenggara Barat secara umum, khsusunya di wilayah yang terdampak bencana di Lombok. Tidak sedikit keterlibatan TSBD dalam merespons bencana dalam rangka memperkuat peran komunitas sebagai bagian dari organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di masa tanggap darurat.

 

Tentuk langkah respons cepat TSBD, khususnya dalam menggalakkan bantuan moril dan materil pada korban bencana untuk memenuhi kebutuhan hidup para korban, membuka ruang untuk komunitas berjejaring dengan berbagai pihak terutama secara khusus masyarakat lokal yang di Sembalun dapat berpartisipasi dalam bergotong royong membantu sesame. Jejaring respons kemanusiaan pada korban bencana, seperti ketika terjadi gempa Lombok 2018 yang berpusat di Lombok Utara, bencana banjir bandang dan kebakaran pemukiman masyarakat di Bima, hingga bencana banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Lombok Barat pada Desember 2021, TSBD yang ada di Sembalun sebagai bagian dari organisasi pengurangan risiko bencana berbasis komunitas telah menunjukkan kekuatan dari sebuah kepedulian dan semangat gotong royong dalam membangun ketangguhan secara kolaboratif. Maka tentu ini menjadi suatu praktik baik dalam mengembangkan desa tangguh bencana melalui pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK). Kerja-kerja berjejaring mulai tumbuh dalam tubuh komunitas TSBD.

 

Regenerasi & Keberlanjutan Ketangguhan Desa Berbasis PRBBK

Sejak terbentuk pada 2010 – 2021, Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang ada di Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang tumbuh dan berkembang di bawah peran pengelolaan masyarakat yang secara usia sudah masuk dalam tahap pra-lanjut usia. Tentu kondisi fisik dan produktivitas para pengurus TSBD yang lama tak lagi sama dengan kondisi ketika awal di bentuk TSBD karna 10 tahun yang lalu masih dalam keadaan tergolong energik untuk bergerak guna pengurangan risiko bencana di tingkat desa.

 

Pada 2021, upaya untuk menyegarkan kepengurusan TSBD mulai digaungkan oleh para sesepuh, dengan melibatkan kalangan muda. Bahkan generasi ke-2 (dua) Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung merupakan anak-anak dari pengurus TSBD yang lama. Tentu hal ini menjadi catatan penting, bahwa ketangguhan itu mampu diwariskan oleh para orang tua yang telah melewati fase perjuangan dalam pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) di tingkat desa.

 

Regenerasi yang lahir dari inisiasi diasaskan pada semangat gotong royong dan musyawarah pada tingkat TSBD ini menjadi suatu hal baik yang senantiasa akan menjadi nilai-nilai yang melekat dalam setiap generasi penerus TSBD dalam upaya penanggulangan bencana di tingkat desa. Desember 2021 merupakan tahun yang membuka angin segar bagi keberlanjutan ketangguhan desa dalam menghadapi bencana di Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang. Hal tersebut tentu pasca terlibatnya kalangan muda yang memiliki spirit kerelawanan dalam membangun ketangguhan di desa.

 

Berbagai pencapaian perubahan yang signifikan pun dapat diraih oleh TSBD setelah para kalangan muda terlibat dalam tubuh komunitas. Perubahan dan pencapaian baik  yang terjadi yakni TSBD di 2 (dua) desa mampu melakukan advokasi terhadap kebijakan penanggulangan bencana desa, yakni Pemerintah Desa Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung memperkuat kerangka penanggulangan bencana di level desa melalui produk hukum desa yakni Peraturan Desa tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Di sisi lain sekaligus diakuinya Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang masuk menjadi bagian kelembagaan desa yang bergerak dalam penanggulangan bencana di level desa.

 

Keterlibatan generasi muda dalam komunitas penanggulangan bencana desa yang berbasis kerelawanan menjadi harapan baru dalam keberlanjutan ketangguhan masyarakat desa dalam menghadapi ancamanan bencana yang ada. Motivasi kalangan muda serta spirit untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan di desa menjadi nilai lebih proses penanggulangan bencana berbasis komunitas.

 

Tentu, Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) sebagai organisasi yang berperan dalam pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) telah memberikan bukti adanya perubahan dalam menyemai  ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. Namun, sekali lagi bahwa ketangguhan bukan hanya kerja-kerja eksklusif dari satuan organisasi tertentu, namun harus mampu menekankan kerja-kerja inklusif yang terintegrasi dan berkolaborasi sehingga ketangguhan yang diraih adalah nilai kekuatan dari persatuan dan kesatuan secara sadar serta keswadayaan berbagai pihak untuk saling memberikan dukungan satu sama lain.

 

Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang telah menjadi satu bingkai bukti praktik pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) yang mampu memberikan nuansa ketangguhan itu lahir dan bertumbuh dalam menghadapi kompleksitas ancaman bencana yang di Sembalun secara khusus. Selain itu adanya penekanan pada kerja-kerja kolaborasi lintas kawasan, lintas sektor dan lintas lembaga guna merawat dan meningkatkan ketangguhan secara kolektif untuk desa dan masyarakat yang tangguh bencana.

 

Written by: Rizwan Rizkiandi – Staff KONSEPSI NTB

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Berita lainnya

Berita Terbaru

Berita Popular

Berlangganan Berita Kami

Dapatkan Update Berita dan Belajar Bersama Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!