Bencana Hidrometeorologi yang Mengancam di Sekitar Kita

Bencana Hidrometeorologi yang Mengancam di Sekitar Kita

BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat di dalam rilisnya pada Kamis, 10 November kemarin menyebut peluang curah hujan pada dasarian II November 2022 dengan intensitas lebih dari 20 mili meter per dasarian terjadi di sebagian besar wilayah Provinsi NTB dengan probabilitas lebih dari 90 persen.

 

Curah hujan dengan intensitas yang lebih dari 50 mili meter per dasarian diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah NTB dengan probabilitas 50 hingga 90 persen. Terdapat juga potensi curah hujan lebih dari 100 mili meter per dasarian di wilayah NTB dengan probabilitas 20 sampai dengan 40 persen.

 

Memasuki periode musim hujan di tahun 2022 dan 2023, prakirawan BMKG mengingatkan kepada masyarakat agar tetap berhati-hati terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

 

Potensi bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi seperti hujan lebat, angin kencang, tanah longsor dan banjir yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal dengan peluang kejadian lebih tinggi jika dibandingkan dengan hari biasanya.

 

Selain itu, diperlukan juga langkah responsif untuk mengantisipasi terjadinya potensi kekeringan. Salah satu yang bisa dilakukan dalam mengantisipasi dampak kekeringan, yaitu membuat tampungan air, terutama pada wilayah dan permukiman penduduk yang rentan bencana.

 

Bencana Hidrometeorologi

 

Bencana hidrometeorologi merupakan bencana alam yang diakibatkan oleh adanya aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin dan kelembaban.

 

Berbagai bentuk bencana hidrometeorologi yang sering terjadi itu berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puyuh, gelombang dingin, hingga gelombang panas. Salah satu penyebab terjadinya bencana hidrometeorologi adalah dampak dari adanya perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem.

 

Indonesia saat ini seperti yang kita ketahui seringkali mengalami perubahan cuaca dan iklim ekstrem yang terjadi secara mendadak. Kondisi itupun kerap berujung pada bencana hidrometeorologis.

 

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Provinsi NTB dalam laporannya banyak merilis informasi tentang peristiwa dan dampak bencana hidrometeorologis.

 

Cuaca ekstrem seperti kemarau panjang menyebabkan kekeringan, hingga hujan lebat dalam periode yang lama dan bisa menimbulkan bencana banjir bandang serta tanah longsor.

 

BNPB secara tidak langsung juga mengungkap suatu fakta bahwa wilayah Indonesia sekarang ini keadaannya sangat rawan terdampak bencana hidrometeorologi.

 

Berdasarkan informasi mingguan yang dirilis BNPB Indonesia menyebutkan selama periode 3-10 November 2022 ini telah terjadi bencana yang berdampak signifikan. Lokasi kejadiannya pun tersebar di 12 provinsi.

 

Provinsi yang terdampak signifikan adalah di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh.

 

Selama sepekan terakhir, banjir tersebut berdampak signifikan terjadi di 23 lokasi. Angin puting beliung di 10 lokasi, dan tanah longsor terjadi di 2 lokasi. Terhitung ada 59.583 jiwa yang terdampak, ada 1.357 jiwa mengungsi, 4 jiwa meninggal dunia, dan 4 jiwa luka-luka.

 

Total ada 19.529 rumah yang terdampak dan dengan kategori rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat. Fasilitas umum dan fasilitas sosial ada 98 yang terdampak dan 21 unit yang rusak serta 176 hektare lahan juga ikut terdampak bencana.

 

Kepala BNPB, Letjend TNI Suharyanto menuturkan ada 3.207 bencana terjadi di Indonesia hingga di bulan November 2022 ini. Sekitar 95 persen didominasi oleh bencana banjir hingga tanah longsor.

 

Dampak bencana alam hidrometeorologi yang terjadi mesti menjadi pertimbangan kita di dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana. Karena itu, diperlukan suatu analisis dan pengolahan data yang baik serta akurat dan cepat terkait kondisi meteorologi, klimatologi, dan geofisika pada suatu wilayah yang rentan.

 

Pentingnya Data Meteorologi

 

Pengkaji transformasi teknologi dan infrastruktur, Totok Siswantara dalam artikelnya yang dimuat detikcom pada 18 Oktober 2022 yang lalu menjelaskan bahwa dalam bidang meteorologi, data dihasilkan dari peralatan digital maupun konvensional.

 

Sedangkan informasi, kata Totok, dihasilkan berdasarkan analisis seorang prakirawan ataupun pengolahan sistem komputasi yang diolah dari data meteorologi.

 

Keberadaan informasi meteorologi sangat penting dan berguna bagi masyarakat untuk mengantisipasi potensi akan datangnya suatu bencana pada suatu wilayah atau kawasan.

 

Data yang dimunculkan merupakan suatu hal yang detail dan bersifat teknis. Sementara informasi yang disajikan berdasarkan data yang kuat akan menghasilkan penjelasan yang rigid serta dapat dipakai untuk mengambil suatu keputusan.

 

Informasi meteorologi pada suatu wilayah juga dapat dimanfaatkan untuk pemetaan potensi bencana maupun perencanaan kebijakan penanggulangannya yang melibatkan pentahelix atau partisipasi multipihak dalam rangka pengurangan risiko bencana.

 

Di dalam strategi pentahelix mesti melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat dan media massa untuk selalu ingat dan waspada terhadap potensi bencana yang mengancam.

 

Dengan adanya pengetahuan potensi bahaya dan kerentanannya, unsur pentahelix tersebut diharapkan sadar akan risiko bencana yang bisa saja menimpa diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

 

Unsur pentahelix juga perlu terlibat untuk melakukan upaya-upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang berbasis komunitas di dalam suatu kawasan guna mengurangi risiko bencana, seperti implementasi program yang telah dipraktekkan KONSEPSI NTB di beberapa desa dampingannya.

 

Di aras lain, tentu penting diingat bahwa perubahan cuaca dan iklim hanya pemicu sebagian saja dari munculnya bencana hidrometeorologi, karena kita tak bisa melulu menyalahkan alam ini.

 

Jika boleh dibilang, penyebab utama bencana hidrometerologis adalah akumulasi dari kerusakan alam yang masif akibat adanya penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan di sekitar kita. Begitu?

 

Penulis: Harianto
Ilustrasi foto: Dampak bencana hidrometeorologi di Lombok Utara pada 16 Oktober 2022 lalu (dok. BPBD NTB)

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Berita lainnya

Berita Terbaru

Berita Popular

Berlangganan Berita Kami

Dapatkan Update Berita dan Belajar Bersama Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!