Bencana Alam dan Sikap Antroposentris

Bencana Alam dan Sikap Antroposentris

Oleh : Hendra Puji Saputra

Staf KONSEPSI NTB

 

Indonesia adalah negara supermarket bencana. Sebutan ini mungkin ada benarnya untuk disematkan kepada Indonesia yang memiliki ancaman bencana yang cukup kompleks. Buktinya, di awal tahun 2021 ini saja, sejumlah daerah di Indonesia tengah dilanda ragam bentuk bencana alam. Sebut saja, mulai dari gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan, longsor di Kabupaten Sumedang, erupsi Gunung Merapi, Gelombang Pasang, dan Angin Puting Beliung di beberapa daerah telah menjadi arus informasi yang tidak pernah sepi dari berbagai pemberitaan. Bahkan, baru-baru ini sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) seperti: Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Bima juga turut dilanda bencana banjir.

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sepanjang 1 Januari hingga 27 Januari 2021 tercatat sebanyak 227 kejadian bencana. Dari total tersebut, didominasi oleh kejadian bencana hidrometeorologi. Kejadian bencana ini telah menyebabkan 185 jiwa meninggal dunia, 8 jiwa hilang, 3.654 jiwa luka-luka, dan 1.517.935 jiwa terdampak dan mengungsi. Dampak lainnya, sebanyak 1.567 rumah rusak berat, 7.593 rumah rusak sedang, dan 562 rumah rusak ringan. Begitu juga fasilitas umum yang rusak diantaranya : 13 fasilitas kesehatan, 32 fasilitas peribadatan, dan 40 fasilitas pendidikan.

 

Data di atas telah menginformasi bahwa bencana telah berdampak secara destruktif terhadap kehidupan masyarakat. Pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi bencana sebetulnya harus menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kesadaran publik (public awareness). Hal ini penting karena hampir setiap tahunnya berbagai daerah di Indonesia selalu dilanda bencana.

 

Sikap Antroposentris

Kejadian bencana, apapun bentuknya, bukan hanya dilihat sebagai bagian dari realitas alam, tetapi sekaligus menjadi fenomena sosial yang berkaitan erat dengan perilaku manusia. Selama ini, faktor alam selalu dijadikan narasi atas penyebab terjadinya bencana. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah. Sebab, alam semesta juga mempunyai kemampuan diri untuk menjaga keseimbangan ekosistemnya sesuai dengan kodrat alamnya. Namun, tekanan eksploitasi manusia terhadap alam nyatanya tak dapat dipungkiri telah menjadi penyebab langsung terjadinya bencana.

 

Dalam perspektif antroposentrisme, manusia dipandang sebagai pusat dari alam semesta. Dimana nilai tertinggi terletak pada manusia dan kepentingannya. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hanya akan bernilai dan bermakna, sejauh dapat menunjang pencapaian kebutuhan dan pemuas kepentingan manusia. Kedudukan ini telah menempatkan manusia sebagai makhluk yang lebih superior dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya. Sikap antroposentris ini, dalam prakteknya telah menguras alam dan segala isinya tanpa memikirkan usaha untuk melestarikannya.

 

Laporan hasil kajian Organisasi Jaringan Pemantau Hutan Independen, Forest Watch Indonesia (FWI) menyebutkan angka laju deforestasi atau penebangan hutan sepanjang 2013 hingga 2017 di Indonesia mencapai 5,7 juta hektare. Pada rentang tahun yang sama, Indonesia kehilangan hutan alam seluas 1,4 juta hektare per tahunnya. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan periode 2009 hingga 2013 yang hanya sebesar 1,1 juta hektare per tahun (fwi.or.id, 2020).

 

Dalam konteks lokal, laju deforestasi di NTB juga cukup memprihatinkan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh WALHI NTB pada tahun 2017, kerusakan hutan akibat izin pertambangan di NTB mencapai 228 ribu hektare. Sementara itu, data lainnya yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB, luas kerusakan hutan di NTB mencapai 360 ribu hektare. Artinya, lebih dari 30 persen hutan rusak dari total kawasan (LombokPost, 21/12/2020).

 

Terjadinya kerusakan alam tidak lain adalah akibat dari krisis moral manusia. Sonny Keraf dalam bukunya Etika Lingkungan Hidup (2010) menyebutkan bahwa persoalan lingkungan hidup merupakan persoalan yang berkaitan dengan perilaku dan moral manusia. Manurutnya, etika lingkungan hidup bukan hanya mengenai perilaku manusia terhadap alam, melainkan juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta.

 

Masalahnya, manusia dengan segala rasionalitas ekonominya telah mempengaruhi hirarki dan fungsi manusia dalam kedudukannya bersama dengan alam. Dengan mengutip pendapat Franz Magnis Suseno yang memandang bahwa sesungguhnya pemikiran antroposentris ini berkaitan dengan ekonomi kapitalis. Dalam ekonomi kapitalis yang berorientasi pada laba, yang terjadi hanyalah pengeksploitasian terhadap sumber daya alam, menggali dan membongkar, tanpa memikirkan dampak terhadap alam. Masifnya illegal loging, perambahan dan pembukaan lahan, serta pertambangan di kawasan hutan adalah bentuk dari eksploitasi oleh manusia yang telah melebihi daya dukung alam. Akibatnya, praktik pembangunan yang dirancang dan bercorak pada sikap antroposentrisme pada gilirannya telah menyebabkan krisis lingkungan.

 

Lebih jauh, masalah krisis lingkungan ini menjadi tidak sederhana karena dapat memicu masalah turunan lainnya. Kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini adalah bukti nyata dari keserakahan manusia terhadap alam. Oleh karena itu, harus diakui bahwa krisis lingkungan adalah akumulasi dari praktik eksploitasi sumber daya alam yang terjadi selama bertahun-tahun. Konsekuensinya, bayang-bayang kejadian bencana alam akan terus berlangsung sepanjang belum ada upaya serius manusia untuk hidup berdampingan dengan alam secara harmoni. Karena sebetulnya manusia memegang mandat sosial budaya untuk menjaga dan menghargai alam.

 

Terkait sikap antroposentris ini, George Orwell dengan sangat apik menulis dalam karyanya berjudul Animal Farm. Melalui karya fenomenalnya itu, Orwell menceritakan bahwa suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpi anehnya. Setalah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia, menciptakan sebuah dunia dimana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

 

Singkatnya, para hewan ternak dengan khusuk dan khidmat mendengar pidato panjang si Major tua sebagai bentuk perlawanan untuk mengakhiri perbudakan yang dilakukan oleh manusia terhadap para hewan ternak. Si Major dalam pidatonya menyeru: “Ingatlah tugas kalian untuk tetap memusuhi manusia dengan segala kerakusannya. Apapun yang berjalan dengan dua kaki, itu adalah musuh. Apapun yang berjalan dengan empat kaki, atau bersayap, adalah teman. Bahkan, jika kalian berhasil mengalahkan manusia, jangan tiru kejahatannya”.

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Berita lainnya

Berita Terbaru

Berita Popular

Berlangganan Berita Kami

Dapatkan Update Berita dan Belajar Bersama Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!