Pelatihan Penanggulangan Bencana dan Simulasi Aksi Merespon Peringatan Dini Digelar untuk Perkuat TSBD dan Pemerintah Desa

Pelatihan Penanggulangan Bencana dan Simulasi Aksi Merespon Peringatan Dini Digelar untuk Perkuat TSBD dan Pemerintah Desa

Lombok Barat, Jayakarta — Program ICANT–ACT bersama KONSEPSI NTB melaksanakan Pelatihan Penanggulangan Bencana bagi Komunitas dan Pemerintah Desa untuk Mendukung Aksi Merespon Peringatan Dini, sebuah rangkaian kegiatan yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam menghadapi ancaman banjir. Kegiatan dihadiri TSBD, perangkat desa, Babinsa, Polmas, Dinas Sosial, PMI, serta kader desa dari berbagai wilayah.

Pelatihan berlangsung dalam beberapa sesi materi, diskusi, dan simulasi penuh, dengan fokus pada peningkatan pemahaman indikator cuaca, koordinasi berjenjang, serta evakuasi berbasis kelompok rentan.

Sesi 1 — Pembukaan: Pengantar Kegiatan & Tujuan Pelatihan

Koordinator Program ICANT–ACT Nasri membuka kegiatan dengan menekankan tujuan utama pelatihan.

“Kegiatan ini kita lakukan untuk mendukung aksi merespon bencana sebagai rangkaian kegiatan berkelanjutan di level desa, terutama bagi TSBD sebagai garda terdepan ketangguhan masyarakat.”

Ia juga menekankan pentingnya membaca dokumen AMPD, SOP, dan protokol aksi antisipasi agar TSBD dapat bertindak sesuai standar.

Sesi 2 — Materi Dasar Kebencanaan & Risiko NTB

Narasumber: Moh. Taqiuddin – Direktur KONSEPSI NTB

Materi ini mengulas indeks risiko bencana NTB, contoh kejadian banjir besar, serta pentingnya kesiapsiagaan komunitas.

“NTB termasuk provinsi dengan indeks risiko bencana sedang. Jika kita memiliki kesiapsiagaan yang baik, dampak bisa diminimalkan karena masyarakat lebih mampu menyelamatkan diri.”

Beliau juga menegaskan bahwa masyarakat lokal adalah responden pertama sebelum bantuan pemerintah datang.

Sesi 3 — Paradigma Penanggulangan Bencana & Sistem Peringatan Dini

Narasumber: Khairul Akbar – BPBD Lombok Timur

Sesi ini membahas manajemen risiko, penguatan EWS, serta pentingnya pembacaan trigger ilmiah seperti curah hujan, sabodam, dan ombrometer.

“Wilayah Indonesia adalah laboratorium bencana. Sistem penanggulangan bencana harus terus beradaptasi dari waktu ke waktu.”

Khairul juga menekankan pemahaman fase peringatan dini, mulai dari monitoring, analisis informasi, diseminasi, hingga keputusan evakuasi.

Sesi 4 — Pertolongan Pertama & Standar Sphere

Narasumber: Ahyanto – PMI Lombok Timur

PMI menyampaikan standar pengelolaan pertolongan pertama dan pelayanan kemanusiaan.

“Simulasi ini adalah bagian edukasi masyarakat. Kita perlu menekankan pentingnya menerima himbauan dan memahami alur peringatan dini.”

Beliau menegaskan bahwa penyelamatan kelompok rentan harus menjadi prioritas.

Sesi 5 — Peran Lembaga Sosial & Pembentukan Relawan Desa

Narasumber: Agus Suhaili – Dinas Sosial

Agus menegaskan pentingnya kolaborasi multisektor dan pembentukan relawan.

“Kita perlu memiliki relawan di setiap desa untuk memudahkan akses informasi kebencanaan dan menguatkan respon komunitas.”

Ia juga menekankan agar relawan memahami SOP dan jalur evakuasi.

Sesi 6 — Penguatan Struktur Posko & Pemantauan Data Pilah

Narasumber: Sekdes Belanting & Sekdes Dasan Geria

Sesi ini berfokus pada kelengkapan posko desa, data kelompok rentan, dan pemantauan debit sabodam.

Sekdes Dasan Geria menambahkan:

“Kearifan lokal juga penting untuk menjadi parameter analisa. Penyebaran informasi harus dilakukan door to door, terutama bagi disabilitas dan lansia.”

Sesi 7 — Simulasi Penuh: Dari Peringatan Dini BMKG hingga Evakuasi Warga

Simulasi berlangsung dengan alur lengkap mulai dari:

  1. BMKG merilis informasi hujan >100 mm,
  2. TSBD mengaktifkan tim SPD,
  3. Kepala Desa menyebarkan imbauan pembersihan drainase,
  4. Pengamatan debit sabodam (75 cm) dan ombrometer (100 mm),
  5. Peningkatan status & penyebaran informasi melalui masjid,
  6. Evakuasi warga menuju titik kumpul.

Kepala Dusun memberikan imbauan:

“Kami minta warga mempersiapkan tas siaga, terutama lansia, ibu hamil, disabilitas, dan anak-anak.”

Pada proses evakuasi, TSBD menghadapi situasi nyata: warga yang menolak pergi karena menunggu ternak melahirkan, kelompok ODGJ, anak-anak panik, hingga kebutuhan logistik mendesak.

BPBD dan Dinas Sosial turun memberikan bantuan makanan siap saji dan memastikan keamanan warga.

Setelah cuaca dinyatakan membaik, Kepala Desa menyampaikan:

“Kami menyiapkan seluruh kebutuhan logistik untuk evakuasi. Warga dipersilakan kembali tetap dengan kewaspadaan.”

Sesi 8 — Evaluasi & Pembelajaran Simulasi

Sesi ini menghasilkan beberapa catatan penting:

Ahyanto – PMI

“Masih kurang respons masyarakat terhadap himbauan awal. Edukasi harus diperkuat.”

H. Kamarudin

“Jangan panik di lapangan. Semua tindakan harus melalui koordinasi yang jelas.”

Agus Suhaili

“Evakuasi harus sesuai indikator. Jangan tergesa-gesa hingga memicu kepanikan.”

Budi – PMI Lobar

“Pegang prinsip 3M: menerima, menganalisa, menyebarkan informasi.”

Muhriadi

“Data warga di titik kumpul harus diverifikasi agar tidak ada yang tertinggal.”

M. Kusmayadi – TSBD Geria

“Simulasi ini membuat kami lebih memahami bagaimana berinteraksi dan berkoordinasi dengan semua pihak terkait.”

Semua pihak sepakat bahwa jalur evakuasi, titik kumpul, dan data kelompok rentan harus diperbarui secara berkala.

Menuju Desa Tangguh Bencana

Kegiatan ini ditutup dengan rencana tindak lanjut berupa:

  • sharing knowledge di desa-desa dampingan,
  • pendistribusian alat komunikasi dan perlengkapan EWS,
  • penguatan protokol aksi antisipasi dan SOP desa,
  • penguatan relawan desa berbasis kelompok masyarakat.

Pelatihan dan simulasi ini diharapkan mampu membangun desa yang lebih siap, lebih cepat merespon, dan lebih tangguh menghadapi bencana banjir yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.

Bagikan Tulisan ini:

Lihat Artikel lainnya

Berlangganan Berita Kami

Jangan lewatkan Update Kegiatan-kegiatan terbaru dari Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!