Perempuan Tangguh Bencana dari Lembah Sembalun Rinjani

Perempuan Tangguh Bencana dari Lembah Sembalun Rinjani

Kawasan Bencana dan Inisiasi Ketangguhan

Kawasan Sembalun termasuk wilayah berisiko tinggi dari ancaman sejumlah potensi bencana alam.Secara obyektif, letak dan posisi kawasan ini berada persis di kaki Gunung Rinjani sehingga sangat berpotensi menjadi wilayah terpapar gunung meletus. Dalam sejarahnya, Gunung Rinjani telah meletus sebanyak sembilan kali selama rentang waktu antara tahun 1847-2004 terutama di kisaran kalderanya. Banjir dan tanah longsor juga selalu mengancam setiap saat karena perbukitan semakin kritis dan tandus akibat dari maraknya penebangan pohon di Kawasan Hutan Gunung Rinjani. Tahun 2006, hantaman banjir bandang telah membawa korban jiwa (meninggal, luka-luka) dan kerugian lain hingga milyaran rupiah. Pada kejadian serupa 2012, bencana banjir bandang tidak sampai menelan korban jiwa dan besarnya kerugian dapat diminimalisir. Pada tahun 2018, bencana gempa bumi mengguncang wilayah Lombok, khususnya Lombok Timur dan Lombok Utara, termasuk juga kawasan Sembalun menjadi salah satu wilayah yang terdampak.

 

Konteks kebencanaan yang ada di Sembalun menjadi salah satu alasan mendasar untuk melahirkan masyarakat yang tangguh dalam menghadapi bencana. Inisiasi pengembangan masyarakat yang tangguh bencana di kawasan Sembalun, maka dibentuklah Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) sebagai komunitas relawan yang berangkat dari partisipasi masyarakat lokal di desa.  Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung terbentuk pada tahun 2010. Komunitas ini menjadi ruang yang inklusif bagi masyarakat desa dengan melibatkan kelompok rentan dalam berpartisipasi untuk pengurangan risiko bencana di tingkat desa. Kelompok rentan ini tentu pihak perempuan, disabilitas, anak-anak, lanjut usia dan kelompok adat terpencil.

 

Menyemai Ketangguhan Komunitas Yang Inklusif

Perempuan harus menjadi bagian yang penting dalam proses membangun ketangguhan di desa melalui komunitas Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung. Keterlibatan perempuan dalam komunitas pengurangan risiko bencana di tingkat desa menjadi sebuah langkah untuk menyemai  inklusifitas untuk membangun ketangguhan terhadap bencana di tingkat lokal. Tentu perempuan yang lebih memahami kebutuhan kelompoknya akan mampu berpartisipasi menyuarakan dan mengambil keputusan dalam meningkatkan ketangguhan yang inklusif. Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung sejak terbentuk pada tahun 2010 telah mendukung keterlibatan perempuan di tingkat lokal dalam rangka berpartisipasi untuk penanggulangan bencana di desa.

 

Perempuan yang terlibat dalam komunitas TSBD Sembalun Bumbung berperan dalam upaya penyediaan akses logistik dalam penanggulangan bencana, khususnya ketika masa tanggap darurat. Selain itu, keterlibatan perempuan dalam komunitas juga mendukung upaya mengembangkan ketangguhan penghidupan masyarakat. Hal tersebut dilakukan melalui pembentukan kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pelaku UMKM yang dikembangkan oleh Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung melakukan inovasi produk dengan cara diversifikasi olahan hasil pertanian.

 

Perempuan diberdayakan dalam komunitas dalam mengembangkan ketangguhan penghidupan dalam adaptasi pengurangan risiko bencana di tingkat desa. Sembalun sebagai kawasan agraris, yang masyarakatnya didominasi sebagai petani. Maka, para petani perempuan dilibatkan dalam mengembangkan hasil pertaniannya melalui proses pengembangan produk UMKM. Sehingga upaya untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana di tingkat lokal bukan hanya menyangkut tangguh terhadap bencana namun juga tangguh dalam mengembangkan penghidupan yang berkelanjutan.

 

Berdasarkan upaya tersebut, lahirlah perempuan-perempuan tangguh yang mampu berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana serta bertumbuh untuk mengembangkan penghidupan masyarakat yang berkelanjutan dengan menjadi pelaku UMKM di kawasan Lembah Sembalun Kaki Rinjani.

 

Perempuan Tangguh Bencana 

Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung menjadi salah satu representasi komunitas penanggulangan bencana di tingkat desa yang paling dewasa bersama dengan TSBD Sembalun Lawang dalam gerakan pengurangan risiko bencana di Lombok, bahkan di Nusa Tenggara Barat. Pelibatan perempuan dalam komunitas penanggulangan bencana di desa Sembalun Bumbung menjadi upaya inklusifitas penanganan bencana dan memungkinkan keberlanjutan komunitas lokal.

 

Pada tubuh TSBD Sembalun Bumbung yang di dalamnya ada bagian logistik menjadi peluang para perempuan yang terlibat dalam penanganan bencana di tingkat desa dengan memanfaatkan hasil pertanian untuk diolah menjadi produk UMKM. Hal ini yang melahirkan perempuan tangguh, salah satunya adalah Ibu Syaeun. Perempuan berusia 46 tahun tersebut, telah menjadi salah satu perempuan yang mampu membuktikan perannya dalam penanggulangan bencana di tingkat desa.

 

Ibu Syaeun telah mengembangkan upaya diversifikasi olahan hasil pertanian menjadi sebuah produk UMKM dengan berbagai jenis hasil produksi yang dapat mendukung proses perekonomian rumah tangga petani dan membuka peluang kerja bagi masyarakat rentan lainnya di wilayah rawan bencana Sembalun. Produk yang dikembangkan oleh Ibu Syaeun dalam usahanya yakni Black Garlic, Buncis Goreng, Stick Kentang, Stick Strawberry, Kopi, Madu Bawang Putih dan lain-lain. Adanya berbagai jenis produk yang dikembangkan oleh Ibu Syaeun ini mendorong upaya adaptif dalam menghadapi bencana, khususnya perempuan dapat menunjukkan kapasitasnya dalam mendukung ketangguhan desa pada aspek penanggulangan bencana.

 

Ibu Syaeun dengan berbagai gerakan yang dilakukan di tingkat desa, bukan hanya pada level UMKM saja, namun pada aspek pendidikan dan gender sosial inklusi. Pada tahun 2018, Ibu Syaeun mendapat penghargaan sebagai salah satu Perempuan Pejuang Pangan yang diberikan  oleh Oxfam di Indonesia bersama para mitra didukung penuh oleh Direktorat Jenderal Pengentasan Fakir Miskin Kementerian Sosial Republik Indonesia telah berhasil memilih tujuh Perempuan Pejuang Pangan 2018.

 

Tentu penghargaan ini menjadi bukti bahwa keterlibatan perempuan dalam membangun dan mengembangkan ketangguhan di tingkat lokal, bahkan menjadi sebuah inspirasi di tingkat nasional. Hingga saat ini, Ibu Syaeun terus bergerak dalam isu penanggulangan bencana yang inklusif melalui ketangguhan UMKM dalam proses pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat di Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Sembalun Bumbung. Ibu Syaeun, menjadi icon perempuan tangguh di Kawasan Sembalun khususnya, bahkan di tingkat Kabupaten Lombok Timur.

 

Written by: Rizwan Rizkiandi – Staff KONSEPSI NTB

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Berita lainnya

Berita Terbaru

Berita Popular

Berlangganan Berita Kami

Dapatkan Update Berita dan Belajar Bersama Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!