Lombok, NTB – KONSEPSI NTB bersama Oxfam dan Yayasan Penabulu, dengan dukungan Australia NGO Cooperation Program (ANCP)–DFAT, melaksanakan Pertemuan Tim Review Penyusunan Protokol Aksi Antisipasi Bencana Banjir di dua kabupaten, yakni Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pembahasan dan penyempurnaan draft Protokol Aksi Antisipasi Bencana Banjir yang telah disusun oleh tim penyusun di tingkat desa. Tim tersebut terdiri dari perwakilan pemerintah desa serta Tim Siaga Bencana Desa (TSBD), sebagai garda terdepan dalam penanggulangan bencana di tingkat lokal.
Perkuat Kualitas Dokumen Antisipasi Bencana Desa
Pertemuan tim review dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat pada 12 September 2025, serta di Kabupaten Lombok Timur pada 19 September, 30 September, dan 6 Oktober 2025. Selain tim desa, kegiatan ini juga melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di tingkat kabupaten untuk memberikan masukan teknis dan penguatan kebijakan agar dokumen yang dihasilkan selaras dengan konteks daerah.
Pembahasan difokuskan pada ketepatan analisis risiko banjir, kejelasan peran para pihak, mekanisme peringatan dini, serta kelayakan protokol untuk diterapkan secara nyata di lapangan.
Dorong Protokol yang Kontekstual, Inklusif, dan Aplikatif
Melalui proses review ini, seluruh pihak berkomitmen memastikan bahwa Protokol Aksi Antisipasi Bencana Banjir yang dihasilkan benar-benar kontekstual, inklusif, dan aplikatif. Protokol tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat desa dalam menghadapi potensi bencana banjir secara lebih terencana dan sistematis.
Sinergi antara pemerintah desa, TSBD, OPD, serta organisasi masyarakat sipil menjadi elemen penting dalam mewujudkan sistem antisipasi bencana yang efektif dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.
KONSEPSI NTB menegaskan bahwa penguatan kapasitas desa dalam penyusunan dan penerapan protokol antisipasi bencana merupakan langkah strategis untuk mengurangi risiko dan dampak bencana banjir, sekaligus melindungi keselamatan dan penghidupan masyarakat di wilayah rawan bencana.




