KONSEPSI NTB Dorong Model Percontohan PRB Antar Desa Berbasis Kawasan di NTB

KONSEPSI NTB Dorong Model Percontohan PRB Antar Desa Berbasis Kawasan di NTB

Kepala Desa di lima lokasi desa dampingan Program Desa Tangguh Bencana (Destana) KONSEPSI NTB bersepakat melakukan kerjasama antar desa satu kawasan dalam melakukan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di tingkat desa.

 

Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (KONSEPSI) atas dukungan pendanaan dari Caritas Germany menggelar pertemuan para pihak di lima desa dampingan untuk mendorong kerjasama PRB antar desa berbasis kawasan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kerjasama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Kepala Desa di lima desa dampingan KONSEPSI. “Bencana itu tidak bisa ditangani secara parsial dan dibatasi oleh administratif wilayah, tetapi basisnya adalah antar kawasan.Bisa saja bencana itu terjadi dari satu desa akan tetapi dampaknya juga dirasakan oleh masyarakat di desa terdekat”, tegas Hairul Anwar, Program Manajer (PM) Desa Tangguh KONSEPSI, Selasa, 16 Maret 2021.

 

Program Manager Desa Tangguh KONSEPSI itu juga menyoroti minimnya kerjasama antar desa tentang isu pengurangan risiko bencana, karena kerjasama antar desa selama ini lebih didorong pada usaha untuk meningkatkan produktivitas ekonomi antar kawasan, “Kita ingin kerjasama antar desa satu kawasan itu bukan hanya berfokus pada peningkatan ekonomi semata, tetapi juga harus dibarengi dengan kerjasama untuk mengurangi risiko bencana”, katanya.

 

Desa yang menjadi model percontohan PRB berbasis kawasan ini dipilih oleh KONSEPSI karena memiliki ragam bentuk jenis ancaman bencana, mulai dari bencana geologi, hidrometeorologi, dan bencana non-alam. Desa-desa itu terdiri dari: Desa Akar Akar, Desa Gunjan Asri, dan Desa Andalan di Kabupaten Lombok Utara. Berikutnya, Desa Obel Obel dan Desa Madayin di Kabupaten Lombok Timur.

 

Kepala Desa Akar Akar, Akarman, S.Sos, mengatakan pemerintah desa akan memberikan dukungan atas program ini, “Kami dari Pemerintah Desa akan mendukung penuh program ini, karena kita semua menyadari bencana itu adalah urusan bersama sehingga kerjasama antar desa itu sangat perlu dilakukan,” imbuhnya.

 

Sementara itu, dalam kegiatan terpisah, Satrasip, Sekretaris Desa Obel Obel mengakui pengalaman mereka dalam menangani bencana banjir bandang selama ini belum terintegrasi dengan desa tetangga, “Desa Obel Obel dan Desa Madayin ini sangat rawan terjadi banjir bandang, namun penanganannya masih menjadi urusan masing-masing desa. Semoga melalui program ini, kedua desa ini dapat membangun kerjasama”, harapnya.

 

Kegiatan yang berlangsung selama setengah hari ini juga turut mengundang perwakilan pemerintah di tingkat kecamatan dan kabupaten. Agus Hery Purnomo dari BPBD Kabupaten Lombok Utara menekankan agar kerjasama antar desa didorong atas kebutuhan bersama sesuai dengan kondisi kewilayahan,”Kalau di desa kita sering terjadi kekeringan dan krisis air bersih, maka perlu didorong adanya aturan bersama untuk mengatur pengelolaan air minum dari hulu sampai ke hilir”, katanya.

 

Written by : Hendra P. Saputra

Berikan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Berita lainnya

Berita Terbaru

Berita Popular

Berlangganan Berita Kami

Dapatkan Update Berita dan Belajar Bersama Kami

Having Computer issues?

Get Free Diagnostic and Estimate From Computer Specialist!